Pages

Senin, 08 November 2010

MASALAH PENGANGGURAN DI INDONESIA


Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dalam pembangunan ekonomi di negara ini pengangguran merupakan masalah yang rumit dan lebih serius daripada masalah perubahan dalam disribusi pendapatan yang kurang menguntungkan penduduk yang berpendapatan rendah. Keadaan di negara-negara berkembang dalam beberapa dasawarsa ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang telah tercipta tidak sanggup menyediakan kesempatan kerja yang lebih cepat daripada pertambahan penduduk. Oleh karenanya masalah pengangguran yang mereka hadapi dari tahun ke tahun semakin serius.
Masalah pengangguran akan menimbulkan dampak yang negatif bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Dampak negatif dari pengangguran adalah kian beragamnya tindakan kriminal, makin banyaknya jumlah anak jalanan, pengemis, pengamen perdagangan anak dan sebagainya sudah menjadi patologi sosial atau kuman penyakit sosial yang menyebar bagaikan virus yang sulit di berantas. Penyakit sosial ini sangat berbahaya dan menghasilkan korban-korban sosial yang tidak bernilai. Menurunnya kualitas sumber daya manusia, tidak di hargainya martabat dan harga diri manusia yang merupakan korban sosial dari penyakit sosial. Oleh karena itu, persoalan pengangguran ini harus secepatnya di pecahkan dan dicari jalan keluarnya.
Namun demikian, perlu disyukuri karena kondisi ketenagakerjaan di Indonesia dalam satu tahun terakhir atau hingga kuartal pertama tahun 2010 menunjukkan adanya sedikit perbaikan. Hal ini digambarkan dengan adanya peningkatan kelompok penduduk yang bekerja serta menurunnya angka pengangguran. Pada kuartal pertama tahun 2010 jumlah angkatan kerja mencapai 116 juta orang naik 2,26 juta orang dibandingkan dengan tahun sebelumnya kuartal yang sama tahun 2009 yang sebesar 113,74 juta orang. Sedangkan penduduk yang bekerja juga terjadi peningkatan, pada kuartal pertama tahun 2010 mencapai 107,41 juta orang naik dari kuartal pertama tahun 2009 sebesar 2,92 juta orang yang sebelumnya 104,49 juta orang. Sementara itu, untuk jumlah pengangguran di Indonesia pada kuartal pertama tahun 2010 mencapai 8,59 juta orang atau 7,41 persen dari total angkatan kerja, mengalami penurunan sekitar 670 ribu orang jika di bandingkan dengan tahun sebelumnya atau kuartal pertama tahun 2009 yang sebesar 8,14 persen.
Naiknya jumlah penduduk yang bekerja pada kuartal pertama tahun 2010 ini terutama di sektor jasa kemasyarakatan yakni sebesar 1,62 juta orang (11,52 %) dan di sektor pertanian sebesar 1,22 juta orang (2,92 %). Sedangkan sektor yang mengalami penurunan yakni sektor konsumsi sebesar 11,70 persen dan sektor transportasi sebesar 4,91 persen. Dengan demikian sektor jasa kemasyarakatan, industri dan perdagangan menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja pada kuartal pertama tahun 2010.Penduduk yang bekerja menurut status pekerjaan.
Secara sederhana kegiatan formal dan informal dari penduduk yang bekerja dapat diidentifikasi berdasarkan status pekerjaan. Dari kategori status pekerjaan utamapekerja formal mencakup kategori berusaha dengan dibantu buruh tetap dan kategori buruh/karyawan, sisanya termasuk pekerja informal. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pada kuartal pertama tahun 2010 sebanyak 33,74 juta (31,42%) pekerja Indonesia bekerja pada kegiatan/sektor formal ada 73,67 juta orang (68,58%) bekerja pada sektor informal. Dari 107,41 orang yang bekerja pada waktu yang sama, status pekerja utama yang terbanyak sebagai buruh/karyawan yakni mencapai 30,72 juta atau sekitar 28,61 persen, kemudian diikuti berusaha dibantu buruh tidak tetap (buru harian/borongan) sebesar 21,92 juta orang atau 20,41 persen dan berusaha sendiri sejumlah 20,46 juta orang atau 19,05% sedangkan sisanya adalah berusaha dibantu buruh tetap.

Penduduk bekerja menurut pendidikan.
Jumlah penduduk yang bekerja menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan untuk semua golongan pendidikan mengalami kenaikan, di mana pada kuartal pertama tahun 2009 pekerja yang bekerja dengan tamatan Universitas sebanyak 4,22 juta orang, untuk kuartal yang sama tahun 2010 meningkat menjadi 4,94 juta orang. Sementara untuk tenaga kerja yang bekerja dengan tamatan Diploma 1/11/ III pada kuartal pertama tahun 2009 sebanyak 2,68 juta orang pada kuartal yang sama tahun 2010 naik menjadi 2,89 juta orang sementara untuk pekerja dengan pendidikan terakhir sekolah menengah kejuruan juga terjadi peningkatan, pada kuartal pertama tahun 2009 sebanyak 7,19 juta orang untuk kuartal yang sama tahun 2010 meningkat menjadi 8,34 juta orang.
Sementara pada waktu yang sama, pekerja pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar ke bawah masih tetap tinggi yakni sekitar 55,31 juta orang, sedangkan jumlah pekerja dengan pendidikan tinggi masih relatif kecil. Pekerja dengan pendidikan diploma sekitar 2,69 persen dan pekerja dengan pendidikan sarjana hanya sebesar 4,60 persen.Pemerintah pada tahun 2010 menargetkan angka pengangguran di Indonesia menjadi 8 persen, untuk memenuhi target tersebut pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5-6 persen dengan pertumbuhan ekonomi tersebut diharapkan bisa menciptakan 2,3 juta lapangan kerja baru. Namun pada waktu yang bersamaan juga akan masuk angkatan kerja baru sekitar 2,1 juta orang.
Dengan target pemerintah pada tahun 2010 angka pengangguran di Indonesia menjadi 8 persen, jika dilihat dari data yang ada di BPS pada kuartal pertama tahun 2010 sudah bisa dikatakan berhasil, sebab menurut data yang ada di mana angka pengangguran hanya sebesar 7,41 persen atau 8,59 juta orang.YanQ menjadi pertanyaan dengan keberhasilan kuartal 1/2010 apakah angka tersebut bisa di pertahankan hingga akhir tahun 2010 !.. , mengingat pada kuartal ketiga merupakan masa-masa lulusan sekolah dan pada waktu yang bersamaan akan menciptakan angkatan kerja baru yang mencapai 2,1 iuta orang.
Oleh karena itu, guna menanggulangi lonjakan angkatan kerja baru serta mengurangi angka pengangguran perlu dilakukan sebuah langkah/cara yang kongkrit. Salah satu cara yang realistis dalam jangka pendek yakni dengan memberdayakan sektor informal, padat karya dan menciptakan jiwa kewirausahaan bagi kaum muda sehingga akan bisa menciptakan pengusaha baru, di samping strategi jangka panjang seperti pemerataan pertumbuhan ekonomi di wilayah melalui kebijakan desentralisasi. Sektor informal dinilai sangat membantu menyerap orang-orang yang menganggur tetapi kreatif dan menjadi pereda di tengah pasar global. Namun bukan berarti sektor formal di abaikan. Jika ternyata sektor informal ternyata dapat menjawab sebagian dari masalah pengangguran yang di hadapi bangsa ini, maka sudah waktunya sektor informal didukung oleh pemerintah dengan menyiapkan anggaran. Anggaran ini bisa digunakan untuk dijadikan modal pengembangan usaha ekonomis produktif bagi pekerja-pekerja informal serta bisa dijadikan modal untuk merintis usaha baru.

Sembilan Tantangan di Jalan Pacaran


Tantangan ke-1 : Rasa Kecewa
            Jangan dikira, tantangan rasa kecewa itu akan mudah kita hadapi. Mengapa? Karena ketidaksempurnaan yang menimbulkan penyesalan itu tidak hanya mengenai terputusnya hubungan pacaran. Biarpun hubungan pacaran kita tidak terputus, rasa kecewa itu selalu membayang-bayangi kita di Jalan Pacaran. Bagaimanapun, menurut penelitian Notarius & Markman, di dalam hubungan akrab dengan lawan-jenis itu selalu terkandung “segudang harapan” yang menjulang tinggi dan seringkali kurang realistis. Ngaku deh, kita berharap si dia (dan diri kita sendiri) berubah menjadi lebih baik, romantis, cakep, pinter, alim, setia, jujur, dan lain-lain. Namun, acapkali kenangan tidak semanis harapan kita. Padahal, setiapa kali kenyataan pahit itu tak terantisipasi, rasa kecewalah yang kita derita.


Tantangan ke-2 : Sifat Takabur
            Kita gampang menderita kecewa kalau suka memperhitungkan kebaikan diri atau jasa yang diberikan kepada sang pacar (atau yang diterima dari sang pacar sebagai balasan atau imbalan atas jasa itu). Di samping itu, perhitungan ‘matematis’ ini dapat mengarah pada kebanggaan yang berlebihan, atau tidak pada tempatnya. Siapa sih diantara kita yang tidak bangga lantaran mampu membahagiakan si dia dengan tulus mengorbankan segalanya? Siapa sih di antara kita yang tidak berbunga-bunga manakal dipuja, dicinta, dipercaya, dibutuhkan, diistimewakan? Apalagi kalau yang membuat jiwa kita melambung itu orang yang paling kita harapkan cintanya.


Tantangan ke-3 : Sifat Munafik
            Untuk lebih mewaspadai betapa seriusnya tantangan sifat munafik ini, ada baiknya kita simak kisah dari cerpen Arie MP Tamba, “Langit Merah Muda” :

           

“Puuunten...!” sapaku suatu sore.
            “Wah, siang-siang begini sudah datang... Apa nggak punya kesibukan, nak Robert?” sahut ibu kosmu yang sore itu kebetulan mau keluar.
            Ujian semester masih lama. Hari-hari kuliah ibarat kerja rutin yang memboyakkan. Dengan menyuguhkan senyum sopan, namun di dalam hati terdengar letup kemarahan yang kuredam, kusahuti ibu kosmu, “Ini, Bu. Ada janji dengan Mita...”
            Selalu bohong-bohong kecil. Bohong-bohong kecil yang sudah menyatu sedemikian rupa dengan kepribadian. Bahkan bohong-bohong kecil itu menjadi kreatif dan penuh nuansa. Coba, apa pernah kita mendiskusikan sebelumnya tentang ‘kunjungan ke rumah sakit’ yang mau kita lakukan itu?
            Karena sadar bahwa ibu kos masih mengintai kita (ia menunda kepergiannya karena kedatanganku), dengan berlagak kelupaan kau menggaruk-garuk kepala dan berkata, “Wah, aku benar-benar lupa. Untung kau datang lebih cepat... Bu, Bu, kami mau ke rumah sakit. Mau membesuk pamannya Robert ini!”
            Ibu kosmu terpaksa ramah dan mulai bertanya ini itu tentang penyakit pamanku. Dan setengah jam kemudian, dalam perjalanan menuju bioskop, tak puas-puasnya kita tertawa. Menertawakan bohong-bohong kecil dan kekonyolan kita.
            “Pulang kita bawa buah,” katamu.
            “Iya,” sahutku. Masih merasa lucu, karena tiba-tiba aku telah memiliki seorang paman yang sedang terbaring di rumah sakit. Sejak kapan aku punya paman di kota Bandung itu? Hahahaha...
            [Beberapa minggu/bulan kemudian] di penginapan kecil di daerah Kebon Kelapa. Dengan rasa curiga dan ingin tahu kau mengikuti langkahku. Daripada karena takut oleh sikap kasar yang kuperlihatkan ketika mencekal tanganmu, wajahmu merah padam lebih karena tiba-tiba ‘belum banyak’ mengenalku. Terutama, sejak minggu-minggu terakhir, ketika aku banyak menghindarimu.
            Sore itu, kelihatan sekali kau ingin tahu, sampai di mana aku ‘bisa jauh’ dan ‘asing’ darimu. Kau, oleh sesuatu yang kau agungkan dalam dirimu, merasa harus terlibat sampai ‘ke akar’. Merasa harus tahu sampai di mana aku bisa sembunyi, jauh dari jangkauan... cintamu; apa namanya...
            Tapi yang menuntunku kesana adalah kebencian, Mita. Hasrat gelap ingin menyakiti. Ada rasa kecewa dalam diriku ketika menyadari teman-teman kuliah seangkatanku sedang dilantik menjadi sarjana ekonomi, sementara aku masih harus menunggu setahun lagi karena tertinggal beberapa mata kuliah. Dan kau pun muncul di kamar kosku sore itu, dengan senyum manis yang segera mendorongku berbuat keji.
            Di penginapan kecil di daerah Kebon Kelapa. Belum seminggu berlalu, seorang gadis SMA berbaring di ranjang yang sama. Berkeringat dan menggeliat tanpa sedikit pun rasa malu. Sedang tubuhmu, diam meringkuk, sementara wajahmu terbakar malu.
            Selamat tinggal kota Bandung, kataku esok paginya.

            Begitulah. Begitu banyak korban berkaparan dilalap ‘serigala berbulu domba’. Kemarin ada korban, hari ini ada korban, besok pun mungkin ada korban lagi. Tampaknya tantangan kemunafikan ini tetap saja sering terlupakan. Tapi ini belum seberapa. Masih ada tantangan serius lain yang lebih terabaikan.


Tantangan ke-4 : Rasa Cemburu
            Di antara sembilan tantangan utama di Jalan Pacaran, mungkin rasa cemburulah yang paling dikenal dan (ironisnya) paling diabaikan. Gimana nggak? Semua orang bilang, cemburu pertanda cinta. Kalau tak ada cemburu, tak ada cinta. Padahal, cemburu itu menyakitkan dan bisa mengubah cinta menjadi benci dan dendam.


Tantangan ke-5 : Sifat Pelit
            Sebagaimana rasa cemburu, sifat pelit pun tergolong tantangan yang paling terabaikan. Bedanya, rasa cemburu terabaikan lantaran terlalu dikenal, sifat pelit terabaikan lantaran kurang dikenal.
Ø Benarkah pelit itu tantangan di Jalan Pacaran?
Ø Bukankah biasanya kita malah royal sama si dia?

Itulah. Kita sering ‘dermawan abis’ sama si dia, tapi pelit terhadap ‘orang lain’ yang boleh jadi justru lebih berhak menerima ‘sedekah’ kita.
            Ingat, dalam pacaran terdapat segudang harapan. Kita pengen, pengen banget, hubungan kita sukses. Untuk itu, lebih-lebih karena manusia adalah makhluk sosial, kita pasti membutuhkan dukungan dari orang-orang lain, khususnya yang dekat sama kita. (Bila kita kikir terhadap mereka, mana mungkin kita peroleh dukungan dari mereka?) Emang sih, sering kali kita baru ngerasain kebutuhan ini ketika kita sudah ‘jatuh dan tertimpa tangga’. Selain itu, pelit terhadap orang lain dan royal kepada sang pacar membuat penyaluran energi kita terfokus pada si dia saja, sehingga cenderung berlebihan. Mudah pula si pacar menjadi sasaran pelampiasan emosi.
            Nah! Sifat pelit itu tantangan serius, kan? Makanya, ini harus kita pertimbangkan matang-matang sewaktu kita hendak ataupun sudah jadian.


Tantangan ke-6 : Rasa Cemas
            “Horeee...!” Mungkin itu sorak-sorai batin kita saat jadian. Namun, kita segera disergap rasa takut kehilangan si dia. Ikatan sudah ada, tapi belum sekuat ikatan perkawinan. Siapa tau, sewaktu-waktu ada kompetitor yang ngajuin ‘proposal’ yang lebih menggiurkan si dia. Bisa-bisa kita tersisih sebelum ‘masuk final’. Belum lagi, kalau masa menunggu peresmian hubungan di depan penghulu itu berlangsung lamaaa dan lamaaa...
            Rasa takut kehilangan si dia, takut dianggap tak setia, takut putus hubungan, bisa menyebabkan cewek-cewek tertantang saat ditodong sang pacar, “Buktikan cintamu padaku!” Celakanya, meskipun semuanya telah diserahkan untuk ‘bukti cinta’, rasa cemas itu tak berkurang, tetapi justru bertambah. Ironis.


Tantangan ke-7 : Sifat Rakus
            Berbeda dari rasa cemas, sifat rakus sering sulit untuk dikenali, terutama bila tumbuh bersamaan dengan sifat munafik. Sifat ‘buaya darat’ ini bisa bersembunyi atau tersembunyi di balik dorongan ‘manis’. Kalian tentu pernah dengar hadits, bahwa walaupun mempunyai dua lembah emas, manusia masih tetap menginginkan lembah emas yang ketiga. Karena itu, sifat rakus bisa pula ngumpet di balik kata-kata.
            Menjadi ‘petualang cinta’ yang rakus itu tidak selalu bermodus playboy (atau playgirl). Sifat rakus di dunia asmara bisa berpola gonta-ganti pasangan. Tanda-tandanya, tak betah ngejomblo lama-lama, jadian bukan demi kebutuhan psikologis atau menuju siap nikah, melainkan lantaran ‘iseng’. Pola gonta-ganti pasangan ini bisa saja tidak bergandengan dengan sifat munafik. Akan tetapi, jika tidak disertai dengan sifat munafik sekalipun, tantangan sifat rakus ini tak kalah seriusnya. Bentuknya yang paling membahayakan adalah pengumbaran nafsu birahi tanpa malu-malu.


Tantangan ke-8 : Sifat Otoriter
            Lain dengan sifat rakus yang kekanak-kanakan, sifat otoriter justru ‘ketua-tuaan’. Kenapa? Karena, orang yang otoriter itu memandang dirinya ‘ketua’. Orang lain diperlakukannya bagai bayi yang bisa disetirnya seenak perutnya.
            Selain pada ‘main kasar’, sifat ingin menguasai orang lain itu tampak jelas dalam bentuk ancaman. Perlu kita perhatiakan, ancaman itu tidak selalu diungkap secara verbal. Ngambek, mogok bicara, uring-uringan ketika sang pacar melakukan sesuatu yang kita benci merupakan gejala otoriter pula. Selain itu, sifat otoriter muncul pula dalam wujud sikap menggurui.



Tantangan ke-9 : Sifat Malas
            Berbeda dari sifat rakus yang mendorong kita bergerak liar ke segala arah, sifat malas membuat kita terlalu tenang, tak beranjak kemana-mana. Akibatnya, urusan-urusan penting menjadi tertunda-tunda dan bahkan bisa sampai terbengkalai.

Rangkuman, Latihan, beserta Kunci Jawaban Ekonomi Koperasi Bab 1-4


BAB I
KONSEP, ALIRAN, DAN SEJARAH KOPERASI

A. Konsep Koperasi
  1. Konsep Koperasi Barat
Koperasi merupakan organisasi swasta, yang dibentuk secara sukarela oleh orang-orang yang mempunyai persamaan kepentingan, dengan maksud mengurusi kepentingan para anggotanya, serta menciptakan keuntungan timbal balik bagi anggota koperasi maupun perusahaan koperasi.

Ø Unsur-Unsur Positif Konsep Koperasi Barat
a)    Keinginan individu dapat dipuaskan dengan cara bekerjasama antarsesama anggota, dengan saling membantu dan menguntungkan.
b)   Setiap individu dengan tujuan yang sama dapat berpartisipasi untuk mendapatkan keuntungan dan menanggung resiko bersama.
c)    Hail berupa keuntungan didistribusikan kepasa anggota sesuai dengan metode yang telah disepakati.
d)   Keuntungan yang belum didistribusikan akan dimasukkan sebagai cadangan koperasi.

Ø Dampak Langsung Koperasi Terhadap Anggotanya
a)    Promosi kegiatan ekonomi anggota
b)   Pengembangan usaha perusahaan koperasi dalam hal investasi, formasi permodalan, pengembangan SDM, pengembangan keahlian untuk bertindak sebagai wirausahawan dan bekerjasama antar koperasi secara horizontal dan vertikal.

Ø Dampak Tidak Langsung Koperasi Terhadap Anggota
a)    Pengembangan kondisi sosial ekonomi sejumlah produsen skala kecilmaupun pelanggan.
b)   Mengembangkan inovasi pada perusahaan skala kecil.
c)    Memberikan distribusi pendapatan yang lebih seimbang dengan pemberian harga yang wajar antara produsen dengan pelanggan, serta pemberian kesempatan yang sama pada koperasi dan perusahaan kecil.

  1. Konsep Koperasi Sosialis
Koperasi merupakan organisasi yang direncanakan dan dikendalikan oleh pemerintah, dan dibentuk dengan tujuan merasionalkan produksi, untuk menunjang perencanaan nasional. Menurut konsep ini, koperasi tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan subsistem dari sistem sosialisme untuk mencapai tujuan-tujuan sistem sosialis-komunis.

  1. Konsep Koperasi Negara Berkembang
Ø Koperasi sudah berkembang dengan ciri tersendiri, yaitu dominasi campur tangan pemerintah dalam pembinaan dan pengembangannya.
Ø Perbedaan dengan Konsep Sosialis
§ Konsep Sosialis, tujuan koperasi, untuk merasionalkan faktor produksi dari kepemilikan pribadi, ke kepemilikan kolektif.
§ Konsep Negara Berkembang, tujuan koperasi, untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi anggotanya.

B. Latar Belakang Timbulnya Aliran Koperasi
  1. Keterkaitan Ideologi, Sistem Perekonomian, dan Aliran Koperasi
  2. Aliran Koperasi
a)    Aliran Yardstick
§ Dijumpai pada negara-negara yang berideologi kapitalis atau yang menganut perekonomian liberal.
§ Koperasi dapat menjadi kekuatan untuk mengimbangi, menetralisasikan dan mengoreksi.
§ Pemerintah tidak melakukan campur tangan terhadap jatuh bangunnya koperasi di tengah-tengah masyarakat. Maju tidaknya koperasi terletak di tangan anggota koperasi sendiri.
§ Pengaruh aliran ini sangat kuat, terutama di negara-negara barat dimana industri berkembang dengan pesat. Seperti di Amerika Serikat, Perancis, Swedia, Denmark, Jerman, Belanda, dan lain-lain.
b)   Aliran Sosialis
§ Koperasi dipandang sebagai alat yang paling efektif untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, disamping itu menyatukan rakyat lebih mudah melalui organisasi koperasi.
§ Pengaruh aliran ini banyak dijumpai di negara-negara Eropa Timur dan Rusia.
c)    Aliran Persemakmuran
§ Koperasi sebagai alat yang efisien dan efektif dalam meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat.
§ Koperasi sebagai wadah ekonomi rakyat berkedudukan strategis dan memegang peranan utama dalam struktur perekonomian masyarakat.
§ Hubungan pemerintah dengan gerakan koperasi bersifat “Kemitraan”, dimana pemerintah bertanggung jawab dan berupaya agar iklim pertumbuhan koperasi tercipta dengan baik.

C. Sejarah Berkembangnya Koperasi
  1. Sejarah Lahirnya Koperasi
a)    Tahun 1844, di Rochdale Inggris, lahirnya koperasi modern yang berkembang dewasa ini. Tahun 1852 jumlah koperasi di Inggris sudah mencapai 100 unit.
b)   Tahun 1862, dibentuklah Pusat Koperasi Pembelian “The Cooperative Whole Sale Society (CWS)”.
c)    Tahun 1808-1883, koperasi berkembang di Denmark, dipelopori oleh Herman Schulze.
d)   Tahun 1818-1888, koperasi berkembang di Jerman, dipelopori oleh Ferdinan Lasalle, Fredrich W. Raiffesen.
e)    Tahun 1896 di London, terbentuklah ICA (International Cooperative Alliance), maka koperasi telah menjadi suatu gerakan internasional
  1. Sejarah Perkembangan Koperasi di Indonesia
a)    Tahun 1895, di Leuwiliang, didirikan pertama kali koperasi di Indonesia (Sukoco, “Seratus Tahun Koperasi di Indonesia”). Raden Ngabei Ariawiriaatmadja, Patih Purwokerto, dkk. Mendirikan Bamk Simpan Pinjam untuk menolong teman sejawatnya para pegawai negeri pribumi melepaskan diri dari cengkeraman pelepas uang. Bank Simpan Pinjam tersebut, semacam Bank Tabungan jika dipakai istilah UU No. 14 tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan, diberi nama “De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank der Irlandsche Hoofden“ = Bank Simpan Pinjam para ‘priyayi’ Purwokerto. Atau dalam bahasa Inggris “The Purwokerto Mutual Loan and Saving Bank for Native Civil Servants”.
b)   Tahun 1920, diadakan Cooperative Commissie yang diketuai oleh Dr. JH. Boeke sebagai Adviseur voor Volks-credietwezen. Komisi ini diberi tugas untuk menyelidiki apakah koperasi bermanfaat di Indonesia.
c)    12 Juli 1947, diselenggarakan kongres gerakan koperasi se-Jawa yang pertama di Tasikmalaya.
d)   Tahun 1960, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 140 tentang Penyaluran Bahan Pokok dan menugaskan koperasi sebagai pelaksananya.
e)    Tahun 1960, diselenggarakan Musyawarah Nasional Koperasi I (Munaskop I) di Surabaya untuk melaksanakan prinsip Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin.
f)    Tahun 1965, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 14 tahun 1965, dimana prinsip NASAKOM (Nasionalis, Sosialis dan Komunis) diterapkan koperasi. Tahun ini juga dilaksanakan Munaskop II di Jakarta.
g)   Tahun 1967, pemerintah mengeluakan Undang-Undang No. 12 tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perkoperasian disempurnakan dan diganti dengan UU No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian.
h)   Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1995, tentang kegiatan Usaha Simpan Pinjam dan Koperasi.

LATIHAN

1.    Koperasi yang menciptakan keuntungan timbal balik bagi anggota maupun perusahaan koperasi, merupakan pengertian koperasi menurut konsep ....
a.    Koperasi Barat                                       d. Koperasi Negara Maju
b.    Koperasi Sosialis                                   e. Koperasi Timur
c.    Koperasi Negara Berkembang
2.    Unsur-unsur positif konsep Koperasi Barat antara lain ....
a.    keinginan individu dapat dipuaskan
b.    setiap individu dapat berpartisipasi untuk mendapatkan keuntungan
c.    hasil berupa keuntungan didistribusikan kepada anggota
d.   keuntungan yang belum didistribusikan menjadi cadangan koperasi
e.    semua jawaban benar
3.    Perhatikan dampak Langsung dan Tidak Langsung Koperasi terhadap Anggotanya berikut ini!
1)   Promosi kegiatan ekonomi anggota.
2)   Bekerjasama antar koperasi secara horizontal dan vertikal.
3)   Pengembangan kondisi sosial ekonomi sejumlah produsen skala kecil, maupun pelanggan.
4)   Mengembangkan inovasi pada perusahaan skala kecil.
5)   Memberikan distribusi pendapatan yang lebih seimbang.
Yang merupakan dampak langsung koperasi terhadap anggotanya adalah ....
a.    1 dan 2                                                   d. 3 dan 4
b.    1 dan 3                                                   e. 4 dan 5
c.    2 dan 3
4.    Dari pernyataan diatas, yang merupakan dampak tidak langsung koperasi adalah ....
a.    1, 2 dan 3                                               d. 4 dan 5
b.    2, 3 dan 4                                               e. semua jawaban salah
c.    3, 4 dan 5
5.    Aliran Koperasi Yardstick sering dijumpai pada negara yang menganut sistem ekonomi ....
a.    Tradisional                                             d. Campuran
b.    Komando                                               e. semua jawaban salah
c.    Liberal
6.    Pengaruh aliran Yardstick sangat kuat terhadap negara-negara sebagai berikut, yaitu....
a.    Amerika Serikat                                     d. Belanda
b.    Perancis                                                 e. semua jawaban benar
c.    Jerman
7.    Pada tahun 1852, jumlah koperasi di Inggris sudah mencapai ... unit.
a.    100                                                         d. 400
b.    200                                                         e. 500
c.    300
8.    Pada tahun 1896, terbentuk ICA (International Cooperative Alliance) di negara ....
a.    Amerika Serikat                                     d. Denmark
b.    Inggris                                                   e. Belanda
c.    Jerman
9.    Koperasi Indonesia didirikan pertama kali di ....
a.    Jakarta                                                   d. Leuwiliang
b.    Bandung                                                            e. Yogyakarta
c.    Bogor
10. Kapan diselenggarakannya Kongres Gerakan Koperasi se-Jawa ?
a.    12 Juli 1947                                           d. 15 Juli 1947
b.    13 Juli 1947                                           e. 16 Juli 1947
c.    14 Juli 1947














BAB II
PENGERTIAN DAN PRINSIP-PRINSIP KOPERASI

A. Pengertian Koperasi
  1. Definisi ILO (International Labour Organization)
Dalam definisi ILO terdapat 6 (enam) elemen yang dikandung dalam koperasi, yaitu :
§ Koperasi adalah perkumpulan orang-orang.
§ Penggabungan orang-orang berdasarkan kesukarelaan.
§ Terdapat tujuan ekonomi yang ingin dicapai.
§ Koperasi berbentuk organisasi bisnis yang diawasi dan dikendalikan secara demokratis.
§ Terdapat kontribusi yang adil terhadap modal yang dibutuhkan.
§ Anggota koperasi menerima resiko dan manfaat secara seimbang.
  1. Definisi Chaniago
  2. Definisi Dooren
  3. Definisi Hatta
  4. Definisi Munkner
  5. Definisi UU No. 25/1992
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi, dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi, sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.

B. Tujuan Koperasi
            Sesuai UU No. 25/1992, Pasal 3, yaitu :
            Koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.


C. Prinsip-Prinsip Koperasi
  1. Prinsip Munkner
§ Keanggotaan bersifat sukarela.
§ Keanggotaan terbuka.
§ Pengembangan anggota.
§ Identitas sebagai pemilik dan pelanggan.
§ Manajemen dan pengawasan dilaksanakan secara demokratis.
§ Koperasi sebagai kumpulan orang-orang.
§ Modal yang berkaitan dengan aspek sosial tidak dibagi.
§ Efisiensi ekonomi dari perusahaan koperasi.
§ Perkumpulan dengan sukarela.
§ Kebebasan dalam pengambilan keputusan dan penetapan tujuan.
§ Pendistribusian yang adil dan merata akan hasil-hasil ekonomi.
§ Pendidikan anggota.
  1. Prinsip Rochdale
§ Pengawasan secara demokratis.
§ Keanggotaan yang terbuka.
§ Bunga atas modal dibatasi.
§ Pembagian sisa hasil usaha kepada anggota sebanding dengan jasa masing-masing anggota.
§ Penjualan sepenuhnya dengan tunai.
§ Barang-barang yang dijual harus asli dan tidak dipalsukan.
§ Menyelenggarakan pendidikan kepada anggota dengan prinsip-prinsip anggota.
§ Netral terhadap politik dan agama.
  1. Prinsip Raiffeisen
§ Swadaya.
§ Daerah kerja terbatas.
§ SHU untuk cadangan.
§ Tanggung jawab anggota tidak terbatas.
§ Pengurus bekerja atas dasar kesukarelaan.
§ Usaha hanya kepada anggota.
§ Keanggotaan atas dasar watak, bukan uang.

  1. Prinsip Herman Schulze
§ Swadaya.
§ Daerah kerja tidak terbatas.
§ SHU untuk cadangan dan untuk dibagikan kepada anggota.
§ Tanggung jawab anggota terbatas.
§ Pengurus bekerja dengan mendapatkan imbalan.
§ Usaha tidak terbatas tidak hanya untuk anggota.
  1. Prinsip ICA (International Cooperative Allience)
§ Keanggotaan koperasi secara terbuka tanpa adanya pembatasan yang dibuat-buat.
§ Kepemimpinan yang demokratis atas dasar satu orang satu suara.
§ Modal menerima bunga yang terbatas. (bila ada)
§ SHU dibagi 3 (tiga), yaitu cadangan, masyarakat, ke anggota sesuai dengan jasa masing-masing.
§ Semua koperasi harus melaksanakan pendidikan secara terus menerus.
§ Gerakan koperasi harus melaksanakan kerjasama yang erat, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional.
  1. Prinsip Koperasi Indonesia versi UU No. 12 tahun 1967
§ Sifat keanggotaan sukarela dan terbuka untuk setiap warga negara Indonesia.
§ Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi sebagai pemimpin demokrasi dalam koperasi.
§  Pembagian SHU diatur menurut jasa masing-masing anggota.
§ Adanya pembatasan bunga atas modal.
§ Mengembangkan kesejahteraan anggota khususnya, dan masyarakat pada umumnya.
§  Usaha dan ketatalaksanaannya bersifat terbuka.
§ Swadaya, swakarta, dan swasembada sebagai pencerminan prinsip dasar percaya pada diri sendiri.
  1. Prinsip Koperasi Indonesia versi UU No. 25 tahun 1992
§ Keanggotan bersifat sukarela dan terbuka.
§ Pengelolaan dilakukan secara demokrasi.
§ Pembagian SHU dilakukan secara adil sesuai dengan jasa usaha masing-masing anggota.
§ Pemberian balas jasa yang tebatas terhadap modal.
§ Kemandirian.
§ Pendidikan perkoperasian.
§ Kerjasama antar koperasi.

LATIHAN

1.    Koperasi berkaitan dengan fungsi-fungsi, antara lain ....
a.    fungsi sosial
b.    fungsi ekonomi
c.    fungsi politik
d.   fungsi etika
e.    semua jawaban benar
2.    Koperasi bertujuan untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya, merupakan tujuan koperasi menurut ....
a.    UU No. 25/1992, pasal 3
b.    UU No. 25/1992, pasal 4
c.    UU No. 25/1992, pasal 5
d.   UU No. 25/1992, pasal 6
e.    UU No. 25/1992, pasal 7
3.    Yang bukan merupakan prinsip-prinsip Munkner adalah ....
a.    keanggotaan bersifat sukarela
b.    keanggotaan terbuka
c.    netral terhadap politik dan agama
d.   pengembangan anggota
e.    pendidikan anggota
4.    Yang merupakan prinsip-prinsip Rochdale adalah ....
a.    pengawasan secara demokratis
b.    bunga atas modal dibatasi
c.    penjualan sepenuhnya dengan tunai
d.   barang-barang yang dijual harus asli dan tidak palsu
e.    semua jawaban benar
5.    Tanggung jawab anggota tidak terbatas, merupakan salah satu prinsip ....
a.    prinsip Munkner
b.    prinsip Rochdale
c.    prinsip Raiffeisen
d.   prinsip Herman Schulze
e.    semua jawaban salah
6.    Usaha dan ketatalaksanaan dalam prinsip koperasi menurut UU No. 12/1967 bersifat ....
a.    terbuka
b.    tertutup
c.    bebas
d.   khusus
e.    umum
7.    Gotong royong adalah kegiatan bersama untuk mencapai tujuan bersama, merupakan pendapat dari ....
a.    Mubyarto
b.    Bung Karno
c.    Bung Hatta
d.   Ahmad Solihin
e.    Asep Suparman
8.    Manakah yang termasuk dalam 6 (enam) elemen dalam koperasi ....
a.    koperasi adalah perkumpulan orang-orang
b.    terdapat tujuan ekonomi yang ingin dicapai
c.    terdapat kontribusi yang adil terhadap modal yang dibutuhkan
d.   anggota koperasi tidak menerima resiko dan manfaat
e.    jawaban a, b, dan c benar
9.    Koperasi Indonesia berasaskan ....
a.    kebersamaan
b.    kekeluargaan
c.    keuntungan
d.   kenyamanan
e.    kesuksesan
10. SHU dibagi 3 (tiga), yaitu cadangan, masyarakat, ke anggota dengan jasa masing-
     masing, termasuk prinsip ....
a.    Munkner
b.    Rochdale
c.    Raiffeisen
d.   Herman Schulze
e.    ICA (International Cooperative Allience)




BAB III
ORGANISASI DAN MANAJEMEN

A. Bentuk Organisasi
  1. Menurut Hanel
Ø Suatu sistem sosial ekonomi atau sosial tehnik yang terbuka dan berorientasi pada tujuan.
Ø Sub sistem koperasi
a)    Individu (pemilik dan konsumen akhir).
b)   Pengusaha perorangan/kelompok (pemasok/supplier)
c)    Badan usaha yang melayani anggota dan masyarakat.
  1. Menurut Ropke
Ø Identifikasi ciri khusus
a)     Kumpulan sejumlah individu dengan tujuan yang sama (kelompok koperasi).
b)     Kelompok usaha untuk perbaikan kondisi sosial ekonomi (swadaya kelompok koperasi).
c)     Pemanfaatan koperasi secara bersama oleh anggota (perusahaan koperasi).
d)    Koperasi bertugas untuk menunjang kebutuhan para anggotanya (penyediaan barang dan jasa).
Ø Sub sistem
a)     Anggota koperasi.
b)     Badan usaha koperasi.
c)     Organisasi koperasi.
  1. Di Indonesia
Ø Bentuk
a)     Rapat anggota
§ Wadah anggota untuk mengambil keputusan.
§ Pemegang kekuasaan tertinggi, dengan tugas sebagai berikut :
o   Penetapan anggaran dasar.
o   Kebijaksanaan umum (Manajemen, Organisasi, dan Usaha koperasi).
o   Pemilihan, pengangkatan, dan pemberhentian pengurus.
o   Rencana kerja, rencana budget, dan pendapatan serta pengesahan laporan keuangan.
o   Pengesahan pertanggungjawaban.
o   Pembagian SHU.
o   Penggabungan, pendirian, dan peleburan.
b)     Pengurus
c)     Pengelola
d)    Pengawas

B. Hirarki Tanggung Jawab
  1. Pengurus
Ø Tugas
a)    Mengelola koperasi dan usahanya.
b)   Mengajukan rancangan rencana kerja, budget, dan belanja koperasi.
c)    Menyelenggarakan rapat anggota.
d)   Mengajukan laporan keuangan dan pertanggungjawaban.
e)    Maintenance daftar anggota dan pengurus.
Ø Wewenang
a)    Mewakili koperasi di dalam dan luar pengadilan.
b)   Meningkatkan peran koperasi.
  1. Pengelola
Ø Karyawan atau pegawai yang diberikan kuasa dan wewenang oleh pengurus.
Ø Untuk mengembangkan usaha dengan efisien dan profesional.
Ø Hubungannya dengan pengurus bersifat kontrak kerja.
Ø Diangkat dan diberhentikan oleh pengurus.
  1. Pengawas
Ø Perangkat organisasi yang dipilih dari anggota dan diberi mandat untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya organisasi dan usaha koperasi.
Ø UU 25 tahun 1992 pasal 39
a)    Bertugas untuk melakukan pengawasan kebijakan dan pengelolaan koperasi.
b)   Berwenang untuk meneliti catatan yang ada dan mendapatkan segala keterangan yang diperlukan.
C. Pola Manajemen
  1. Menggunakan gaya manajemen yang partisipatif.
  2. Terdapat pula job description pada setiap unsur dalam koperasi.
  3. Setiap unsur memiliki ruang lingkup keputusan yang berbeda (decision area).
  4. Setiap unsur memiliki ruang lingkup keputusan yang sama (shared decision area).
LATIHAN

1.    Sub sistem koperasi menurut Hanel yaitu ....
a.    Individu
b.    pengusaha perorangan/kelompok
c.    badan usaha yang melayani anggota dan masyarakat
d.   jawaban a, b, dan c benar
e.    jawaban a, b, dan c salah
2.    Manakah yang bukan merupakan tugas pengurus ....
a.    mengelola koperasi dan usahanya
b.    menyelenggarakan rapat anggota
c.    maintenance daftar anggota dan pengurus
d.   meningkatkan peran koperasi
e.    mengajukan laporan keuangan dan pertanggungjawaban
3.    Perangkat organisasi yang dipilih dari anggota dan diberi mandat untuk melakukan pengawasan, merupakan penegrtian dari ....
a.    pengawas                                                           d. ketua
b.    pengurus                                                            e. sekretaris
c.    pengelola
4.    Hubungan pengelolan dengan pengurus bersifat ....
a.    terbuka                                                               d. umum
b.    tertutup                                                              e. khusus
c.    kontrak kerja
5.    Decision area dalam pola manajemen memiliki arti ....
a.    keputusan yang berbeda
b.    keputusan yang sama
c.    pengambilan keputusan
d.   keputusan yang salah
e.    keputusan yang benar
6.    Shared decision area dalam pola manajemen memiliki arti ....
a.    keputusan yang berbeda
b.    keputusan yang sama
c.    pengambilan keputusan
d.   keputusan yang salah
e.    keputusan yang benar
7.    Suatu sistem sosial ekonomi yang terbuka dan berorientasi pada tujuan adalah bentuk organisasi menurut ....
a.    Hanel                                                                 d. Rochdale
b.    Ropke                                                                e. Munkner
c.    Mubyarto
8.    Koperasi bertugas untuk menunjang kebutuhan para anggotanya, merupakan pendapat dari ....
a.    Hanel                                                                 d. Rochdale
b.    Ropke                                                                e. Munkner
c.    Mubyarto
9.    Beberapa tugas pemegang kekuasaan tertinggi, kecuali ....
a.    penetapan anggaran dasar
b.    kebijaksanaan umum
c.    pengesahan pertanggungjawaban
d.   pembagian SHU
e.    menyelenggarakan rapat anggota
10. Pengurus terdiri dari ....
a.    ketua                                                                  d. jawaban a, b, dan c benar
b.    sekretaris                                                            e. jawaban a, b, dan c salah
c.    bendahara













BAB IV
TUJUAN DAN FUNGSI KOPERASI

A. Pengertian Badan Usaha
Ø Koperasi adalah badan usaha atau perusahaan yang tetap tunduk pada kaidah dan aturan prinsip ekonomi yang berlaku (UU No. 25 tahun 1992).
Ø Mampu untuk menghasilkan keuntungan dan mengembangkan organisasi dan usahanya.
Ø Ciri utama koperasi adalah pada sifat keanggotaan, sebagai pemilik sekaligus pengguna jasa.
Ø Pengelolaan koperasi sebagai badan usaha dan unit ekonomi rakyat memerlukan sistem manajemen usaha (keuangan, tehnik, organisasi dan informasi), dan sistem keanggotaan (membership system).

B. Tujuan dan Nilai Koperasi
  1. Perusahaan Bisnis
a)    Theory of the firm, perusahaan perlu menetapkan tujuan :
§ Mendefinisikan koperasi.
§ Mengkoordinasi keputusan.
§ Menyediakan norma.
§ Sasaran yang lebih nyata.
b)   Tujuan perusahaan
§ Maximize profit, maximize the value of the firm, minimize cost.
  1. Koperasi
a)    Berorientasi pada profit oriented dan benefit oriented.
b)   Landasan operasional didasarkan pada pelayanan (service at a cost).
c)    Memajukan kesejahteraan anggota merupakan prioritas utama (UU No. 25 tahun 1992).
d)   Kesulitan utama pada pengukuran nilai benefit dan nilai perusahaan.




C. Teori Bisnis pada Success Koperasi
Ø Maximization of sales (William Banmold)
Usaha untuk memaksimumkan penjualan setelah keuntungan yang diperoleh telah memuaskan para pemegang saham (stake holders).
Ø Maximization of management utility (Oliver Williamson)
Penerapan pemisahan pemilik dan manajemen (separation of management from ownership) dan maksimalisasi penggunaan manajemen.
Ø Satisfying Behaviour (Herbert Simon)
Diperlukan adanya perjuangan dan usaha keras dari pihak manajemen untuk memuaskan beberapa tujuan yang telah ditentukan, seperti sales, growth, market share, dll.

D. Teori Laba
Ø Konsep laba dalam koperasi adalah SHU, semakin tinggi partisipasi anggota, maka semakin tinggi manfaat yang diterima.
Ø Innovation Theory of profit, perolehan laba yang maksimal karena adanya keberhasilan organisasi dalam melakukan inovasi terhadap produknya.
Ø Managerial Efficiency Theory of Profit, organisasi yang dikelola dengan efisien akan meraih laba di atas rata-rata laba normal.

E. Kegiatan Usaha Koperasi
Ø Status dan motif anggota koperasi.
1.    Anggota sebagai pemilik (owners), dan sekaligus pengguna (users/customers).
2.    Owners, sebagai penanam modal investasi.
3.    Customers, memanfaatkan pelayanan usaha koperasi dengan maksimal.
4.    Kriteria minimal anggota koperasi
a)    Tidak berada dibawah garis kemiskinan dan memiliki potensi ekonomi.
b)   Memiliki pola income reguler yang pasti.
Ø Kegiatan Usaha
1.    Usaha yang berkaitan langsung dengan kepentingan anggota untuk meningkatkan kesejahteraan anggota.
2.    Dapat memberikan pelayanan untuk masyarakat (bila terdapat kelebihan kapasitas; dalam rangka optimalisasi economies of scale).
3.    Usaha dan peran utama dalam bidang sendi kehidupan ekonomi rakyat.
Ø Permodalan koperasi.
1.    UU 25/1992, pasal 41, modal koperasi terdiri atas modal sendiri dan modal pinjaman (luar).
a)    Modal Sendiri
Simpanan pokok anggota, simpanan wajib, dana cadangan, donasi atau dana hibah.
b)   Modal Pinjaman
Bersumber dari anggota, koperasi lain, bank dan lembaga keuangan lain, penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya, dan sumber lain yang sah.


LATIHAN

1.    Perusahaan perlu menetapkan tujuan, antara lain ....
a.    mendefinisikan organisasi
b.    mengkoordinasi keputusan
c.    menyediakan norma
d.   sasaran yang lebih nyata
e.    semua jawaban benar
2.    Proritas utama koperasi menurut UU No. 25/1992 adalah ....
a.    memajukan kesejahteraan anggota
b.    mendapatkan laba sebesar-besarnya
c.    mendapatkan resiko
d.   semua barang terjual
e.    memajukan kesehatan
3.    Usaha untuk memaksimumkan penjualan setelah keuntungan adalah pendapat dari ....
a.    William Banmold
b.    Oliver Williamson
c.    Herbert Simon
d.   semua jawaban benar
e.    semua jawaban salah
4.    Semakin tinggi partisipasi anggota, maka semakin tinggi manfaat yang diterima, merupakan ....
a.    teori laba                                                            d. tujuan laba
b.    konsep laba                                                        e. manfaat laba
c.    fungsi laba
5.    Modal koperasi terdiri dari ....
a.    modal sendiri
b.    modal pinjaman
c.    modal masyarakat
d.   jawaban a dan b benar
e.    semua jawaban salah


6.    Modal sendiri terdiri dari ....
a.    simpanan pokok anggota                                   d. dana hibah
b.    simpanan wajib                                                  e. semua jawaban benar
c.    dana cadangan
7.    Yang merupakan sumber modal pinjaman ....
a.    penerbitan obligasidan surat hutang                  d. simpanan pokok
b.    dana hibah                                                         e. simpanan wajib
c.    dana cadangan
8.    Ciri-ciri koperasi antara lain ....
a.    mampu menghasilkan keuntungan
b.    mampu mengembangkan organisasi
c.    mampu mengembangkan usaha
d.   semua jawaban benar
e.    semua jawaban salah
9.    Penerapan pemisahan pemilik dan manajemen, serta memaksimalisasi penggunaan manajemen, merupakan teori ekonomi menurut ....
a.    William Banmold
b.    Oliver Williamson
c.    Herbert Simon
d.   William
e.    Simon
10. Beberapa tujuan yang telah ditentukan dalam teori bisnis yaitu ....
a.    sales                                                                   d. semua jawaban salah
b.    growth                                                               e. semua jawaban benar
c.    market share









KUNCI JAWABAN

BAB I             BAB II                                    BAB III                      BAB IV                                 
1.    A               1. E                                         1. D                            1. E
2.    E                2. A                                        2. D                            2. A
3.    A                3. C                                        3. A                            3. A
4.    C                4. E                                        4. C                             4. B
5.    C                5. C                                       5. A                             5. D
6.    E                 6. A                                       6. B                             6. E
7.    A                 7. A                                      7. A                             7. A
8.   B                  8. E                                      8. B                             8. D
9.    D                 9. B                                      9. E                              9. B
10. A               10. E                                    10. D                           10. E