4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Kota Bekasi secara administatif, seluruhnya dapat dikategorikan sebagai kawasan perkotaan, namun secara fungsional sesungguhnya terdapat perbedaan karakteristik antara bagian wilayah kota disebelah utara dan disebelah selatan. Dalam hal ini perbedaan karakteristik tersebut adalah:
1)Bagian wilayah kota disebelah utara, yang selama ini sudah berkembang dengan dominasi kawasan terbangun, intensitas pemanfaatan ruang tinggi, kepadatan penduduk tinggi, dan secara fungsional menunjukkan dominasi kegiatan perkotaan. Dalam kaitannya dengan pengembangan kota di masa yang akan datang, bagian wilayah kota ini memerlukan pemantapan fungsi bagi kegiatan yang akan tetap dipertahankan, pengendalian terhadap kegiatan yang dikhawatirkan akan melampaui daya dukung wilayahnya, intensifikasi pemanfaatan lahan dengan pembangunan vertikal, serta penanganan terhadap berbagai permasalahan fisik dan prasarana dasar perkotaan.
2)Bagian wilayah kota disebelah selatan yang relatif belum berkembang dengan dominasi kawasan tidak terbangun dan kegiatan masih bersifat bukan-perkotaan (perkampungan) serta kepadatan penduduk rendah. Dalam kaitannya dengan pengembangan kota di masa yang akan datang, bagian wilayah kota ini memerlukan pengarahan kegiatan perkotaan secara ekspansif sesuai dengan potensi yang dapat dikembangkan, pengembangan pusat-pusat kegiatan baru untuk mengurangi beban pelayanan pusat kota, serta pengintegrasian pengembangan dengan rencana pemanfaatan ruang wilayah sekitar/ yang berbatasan.
Kota Bekasi merupakan salah satu mitra ibukota negara, khususnya sebagai sentra produksi dengan keberadaan Kawasan Industri berskala internasional yang sangat membutuhkan fasilitas jalan yang mendukung. Hal tersebut diwujudkan dalam terbukanya akses yang luas ke dalam Kota Bekasi melalui Gerbang Tol Mustikajaya, Cibitung, Cikarang Barat dan Cikarang Timur, dimana pada keempat gerbang tol tersebut volume lalu lintas menunjukan peningkatan volume kendaraan yang sangat signifikan.
Berdasarkan data dari Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bekasi tahun 2008, panjang jalan di Kota Bekasi adalah 1012,60 km, terdiri dari jalan tol sepanjang 38,50 km, jalan nasional sepanjang 34,40 km, dan jalan kabupaten sepanjang 393,70 km. Sedangkan menurut sistem dan fungsinya jalan arteri primer sepanjang 34,40 km, arteri sekunder sepanjang 3,60 km, kolektor primer sepanjang 360,83 km, kolektor skunder sepanjang 76,65 km, jalan lokal primer sepanjang 261,72 km dan jalan lokal sekunder sepanjang 170,6 km. Jalan negara seluruhnya diaspal sedangkan jalan kabupaten 46,08% diaspal, 27,92% kerikil, dan 26,00% beton. Kondisi jalan negara termasuk sedang, jalan kabupaten 35,76% baik, sedang 37,06%, rusak 27,18%. Adapun rencana peningkatannya adalah jalan dalam kondisi rusak akan ditingkatkan menjadi sedang dengan ruas jalan kondisi sedang akan ditingkatkan menjadi baik.
Keberadaan infrastruktur jalan berbeda antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya. Pada kecamatan yang terdapat pusat kegiatan ekonomi (industri) maupun pemerintahan, infrastruktur jalan tersedia dengan baik. Sedangkan di kecamatan-kecamatan yang masih didominasi kawasan pertanian, infrastruktur jalan cenderung terbatas dari segi kuantitas maupun kualitas. Pemerintah Kota Bekasi terus berusaha untuk meningkatkan ketersediaan infrastruktur jalan untuk mendukung perkembangan wilayah Kota Bekasi yang menyeluruh.
Ruas jalan arteri primer yang merupakan jalan antar karuasan membentuk pola linier, membentang pada poros barat-timur yaitu dari Kecamatan Cikarang Timur (batas Kabupaten Karajalang) sampai ke Kecamatan Tambun Selatan (batas Kota Bekasi). Dengan letak yang sejajar dengan jalan tol Jakarta-Cikampek serta adannya jalan industri dan akses tol sebagai ruas arteri sekunder yang berdekatan dengan jalur utama tersebut maka seluruh jalur distribusi utama regional ini terkonsentrasi di bagian tengah Kota Bekasi. Jalan kolektor yang berfungsi sebagai pengumpan (feeder) dari tiap kawasan wilayah Bekasi dengan jalur utama ini membentuk simpul yang berkembang menjadi pusat-pusat kegiatan perekonomian masyarakat yang menyebabkan beban lalulintas poros barat-timur sangat berat dibandingkan ruas jalan lainnya.
Ruas-ruas jalan kolektor primer dan kolektor sekunder yang tersebar di seluruh wilayah Kota Bekasi yang menghubungkan antar kecamatan, desa, kampung dan lingkungan membentuk pola grid (kotak) terutama diwilayah Kota Bekasi sebelah selatan dan tengah. Sedangkan disebelah utara dan timur, pola jaringan jalannya membentuk jalan melingkar yang membentang dari Kecamatan Muara Gembong sampai Kecamatan Kedung Waringin. Pola grid jaringan jalan antar ruas jalan kolektor tersebut membentuk simpul-simpul yang berkembang menjadi sub pusat perekonomian masyarakat menyebabkan beban lalu lintas cukup tinggi pada ruas-ruas jalan kolektor primer sebagai poros utara-tengah dan selatan-tengah yang merupakan akses distribusi utama interregional yang menghubungkan antar karuasan di seluruh wilayah Bekasi, seperti pada ruas jalan Cikarang Utara-Cibarusah, Cibitung-setu, Babelan-Tambun Utara, Tambelang-Cibitung dan Sukatani-Cikarang Utara, seluruh ruas jalan tersebut berada di sebelah barat, utara, selatan, dan tengah wilayah kota Bekasi. Sedangkan akses distribusi utama inter-regional sebagai poros utara-tengah dan tengah selatan di sebelah timur wilayah Bekasi yang dilayani oleh ruas jalan Cibarusah-Cikarang Timur dan ruas jalan Muara Gembong-Kedung Waringin memiliki beban lalu lintas relatif rendah.
Kota Bekasi merupakan salah satu daerah penyangga ibukota negara. Sebagai daerah penyangga, terutama dalam hal pemukiman sangat dibutuhkan fasilitas jalan yang mendukung. Di antaranya adalah jalan tol Cibitung dan Cikarang. Di kedua gerbang tol tersebut volume lalu lintas menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2008, Volume kendaraan meningkat 6,27 % dari tahun sebelumnya. Di sisi lain, Kereta api merupakan sarana angkutan yang banyak digunakan masyarakat Bekasi. Stasiun kereta api yang berlokasi di Kota Bekasi adalah Stasiun Tambun, Cikarang dan Lemahabang. Dari ketiga stasiun tersebut, selama tahun 2008 penumpang kereta api berjumlah 1.228.257 orang, atau naik sebesar 30,97 % dibandingkan tahun 2007.
Keberadaan Kota Bekasi sebagai sentra produksi nasional yang ditujukkan oleh keberadaan Kawasan Industri yang sangat luas menjadikan sistem angkutan barang menjadi perhatian penting pada transportasi Kota Bekasi. Sistem angkutan barang diarahkan hanya melintasi jalan primer dan jalan tol dengan rute untuk angkutan penumpang regional dengan pertimbangan lokasi pergudangan, terminal barang, industri dan pasar. Terdapat banyak permasalahn yang ditemui hal lintasan angkutan barang dan pengawasannya. Di salah satu pihak rute angkutan barang telah disesuaikan dengan kelas jalan tinggi sesuai kekuatan konstruksinya, tetapi angkutan barang masih melewati jalan kelas rendah karena keberadaan sebagian industri di kawasan permukiman dimana distribusi produk dan bahan baku produksi melalui jalan tersebut. Permasalahan lain ialah terdapat beberapa pangkalan angkutan barang di pinggir jalan yang menimbulkan permasalahan lalu lintas dan lingkungan. Selain itu, adanya outlet produksi kawasan industri Kota Bekasi yang terpusat ke Tanjung Priok melalui jalan Tol yang sudah sangat padat menimbulkan beban lalu lintas yang jauh lebih tinggi.
Selasa, 08 November 2011
Selasa, 01 November 2011
BAB III - Metodologi Penelitian
3.1 Objek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah konsumen barang-barang convenience yang berbelanja baik pada retail modern (minimarket, supermarket dan hypermarket) maupun retail tradisional (pasar tradisional) yang berada di wilayah kota Bekasi. Alasan penulis memilih kota Bekasi sebagai objek dalam penelitian ini adalah karena kota Bekasi merupakan salah satu kota yang terdapat di provinsi Jawa Barat, Indonesia, yang berada dalam lingkungan megapolitan Jabodetabek dan menjadi kota besar keempat di Indonesia. Saat ini kota Bekasi berkembang menjadi kawasan sentra industri dan kawasan tempat tinggal kaum urban. Secara geografis kota Bekasi berada pada ketinggian 19 m diatas permukaan laut. Kota ini terletak di sebelah timur Jakarta, berbatasan dengan Jakarta Timur di barat, kabupaten Bekasi di utara dan timur, kabupaten Bogor di selatan, serta kota Depok di sebelah barat daya. Dari total luas wilayahnya, lebih dari 50 % sudah menjadi kawasan efektif perkotaan dengan 90 % telah menjadi kawasan perumahan, 4 % telah menjadi kawasan industri, 3 % telah digunakan untuk perdagangan, dan sisanya untuk bangunan lainnya.
3.2 Pengumpulan Data
3.2.1 Data Primer
Pengambilan data melalui data primer dengan cara menyebarkan kuesioner pada konsumen barang-barang convenience yang berbelanja baik pada retail modern maupun retail tradisional. Pendapat Kasmir (2004) tentang kuesioner yaitu, metode dengan cara mengajukan formulir pertanyaan kepada responden atau konsumen yang diinginkan. Konsumen diminta untuk menjawab setiap pertanyaan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya tanpa adanya tekanan dari pihak periset. Dalam formulir dijelaskan cara-cara untuk menjawab pertanyaan. Proses pengambilan data dilakukan dengan penarikan sampel dari konsumen barang convenience yang berbelanja baik pada retail modern maupun retail tradisional.
3.2.2 Data Sekunder
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai literatur yang berhubungan dengan penelitian dan informasi dari Biro Pusat Statistik (BPS), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Pemerintah Daerah. Data sekunder dalam penelitian ini berupa perkembangan usaha ritel di Indonesia, baik ritel tradisional maupun ritel modern.
3.3 Populasi dan Penentuan Sampel
Populasi penelitian ini adalah konsumen barang-barang convinience yang berbelanja di pasar retail tradisional maupun retail modern baik retail kecil dan menengah maupun retail besar, di wilayah Bekasi Jawa Barat. Jumlah penduduk kota Bekasi adalah 2.336.489 jiwa (Hasil SP 2010).
Pemilihan sampel dalam penelitian pendahuluan dilakukan dengan menggunakan purposive sampling, agar hasil penelitian sesuai dengan tujuan penelitian. Agar responden yang terpilih memiliki kesamaan persepsi maka perlu diberikan batasan, diantaranya:
1. Responden berada berusia produktif 17 – 55 tahun, dengan asumsi dalam usia produktif, responden memiliki kemampuan dan keputusan sendiri dalam berbelanja.
2. Responden memiliki penghasilan
3. Responden berbelanja rutin di gerai retail kecil, menengah dan besar.
4. Responden berdomilisi di Bekasi Jawa Barat.
Pemilihan sampel dilakukan dengan eksploratori data, serta pengamatan dan interview pendahuluan dengan praktisi dan ahli lain dalam bidang perilaku konsumen dan kependudukan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan konsumen retail dan retail itu sendiri.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel perilaku konsumen yang selanjutnya akan dijadikan kriteria bagi konsumen dalam pemilihan tempat belanja. Adapun operasionalisasi kriteria di atas adalah sebagai berikut:
a) Kualitas Barang
Kedalaman, luas dan kualitas keragaman barang merupakan determinan dalam memilih toko dan berlaku pada suatu hypermarket. Pada masa kini banyak toko yang berkembang dengan pesat dalam kemampuan bersaing, karena kemampuan mereka menyusun dan menyajikan ragam barang yang dominan serta menyediakan barang-barang dengan kualitas yang baik dan terjamin.
b) Lokasi
Koefisien korelasi bertanda positif sebesar 0.600 menunjukkan hubungan Lokasi dengan Promosi searah, artinya jika variabel Lokasi pada ritel minimarket diterima baik oleh konsumen maka variabel Promosi semakin baik pula diterima konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Sebaliknya jika variabel Lokasi di ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen maka variabel Promosi pada ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Misalnya, dengan lokasi yang strategis dan promosi yang dapat dipercaya akan menarik konsumen untuk berbelanja pada ritel minimarket tersebut, hal ini dapat membentuk kepuasan konsumen pada ritel minimarket.
c) Kelengkapan Barang
Kelengkapan barang meliputi aneka macam jenis produk yang ditawarkan pihak penjual. Kelengkapan barang yang akan dibeli konsumen merupakan salah satu faktor yang menentukan konsumen dalam pemilihan tempat belanja. Konsumen akan lebih tertarik untuk berbelanja pada tempat yang menawarkan kelengkapan barang, karena tidak perlu berpindah tempat bila ingin berbelanja dengan bermacam barang.
d) Pelayanan
Koefisien korelasi bertanda positif sebesar 0.596 menunjukkan hubungan Kelengkapan Produk dengan Pelayanan searah, artinya jika variabel Kelengkapan Produk pada ritel minimarket diterima baik oleh konsumen maka variabel Pelayanan semakin baik pula diterima konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Sebaliknya jika variabel Kelengkapan Produk di ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen maka variabel Pelayanan pada ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Misalnya, dengan jenis produk yang ditawarkan lengkap dan pelayanan yang cepat akan menarik konsumen untuk berbelanja pada ritel minimarket tersebut, hal ini dapat membentuk kepuasan konsumen pada ritel minimarket.
3.5 Analisis Data
3.5.1 Perancangan Model Hierarki
Dalam tahap ini akan dibuat suatu kerangka hierarki yang dijadikan untuk pengambilan keputusan yang efektif atas permasalahan yang kompleks. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam proses pengambilan keputusan.
Perancangan model hierarki tergantung kepada keputusan yang diambil. Pada tingkat dasar yaitu alternatif-alternatif yang objektif. Dalam penelitian ini alternatifnya adalah retail tradisional dan retail modern. Tingkat berikutnya yaitu kriteria-kriteria sebagai pertimbangan dari alternatif-alternatif. Pada tingkat puncak hanya satu elemen, yaitu tujuan menyeluruh.
Untuk dasar pembuatan kuesioner didapatkan dari AHP itu sendiri, yang merupakan proses pengambilan keputusan dengan memberikan perbandingan berpasangan pada tiap-tiap faktor dan memberikan bobot penilaian untuk preferensi dari tiap-tiap perbandingan.
Menurut Saaty (1993) pada dasarnya, metode Proses Hierarki Analitik ini memecah-mecah suatu situasi yang kompleks, tak terstruktur ke dalam bagian-bagian komponennya, menata bagian atau variable ini dalam suatu susunan hierarki, memberi nilai numeric pada pertimbangan subyektif tentang relative pentingnya setiap variabel, dan mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.
Hasil yang diperoleh dari kuesioner, tidak ditampilkan semua dalam penelitian ini karena variabel yang digunakan pada penelitian ini hanya terdiri dari empat variabel yaitu kualitas barang, lokasi, kelengkapan barang, dan pelayanan. Sehingga data yang akan dibahas pada pembahasan disesuaikan dengan variabel yang digunakan.
Dari kuesioner tersebut, responden akan membandingkan antara kolom kiri dan kolom kanan mana yang dianggap lebih penting. Kemudian memberikan tanda () pada kolom yang sesuai untuk penilaian tingkat kepentingan antara masing-masing faktor. Keterangan skor/bobot dalam kuesioner tersebut adalah:
Angka 1 = sama pentingnya: dua hal yang diperbaningkan sama pentingnya
Angka 3 = sedikit (moderate) lebih penting: satu hal yang diperbandingkan sedikit (moderate) lebih penting dibandingkan dengan komponen lainnya.
Angka 5 = Lebih penting: satu hal yang diperbandingkan lebih penting dibandingkan dengan komponen lainnya.
Angka 7 = Sangat lebih penting: satu hal yang diperbandingkan sangat lebih penting dibandingkan dengan komponen lainnya.
Angka 9 = Mutlak lebih penting: satu hal yang diperbandingkan mutlak (extreme) lebih penting dibandingkan dengan komponen lainnya.
Angka 2, 4, 6, 8 menyatakan tingkat kepentingan diantara angka-angka tersebut di atas, misalnya 3 dan 5, merupakan pilihan yang memiliki kualifikasi antara sedikit (moderate) lebih penting dan lebih penting.
3.5.2 Pemrosesan Data
Setelah data diperoleh, maka tahap selanjutnya adalah melakukan pemrosesan data. Kita harus mensistensis atau menyatukan pertimbangan yang dibuat dengan melakukan perbandingan berpasangan untuk mendapatkan peringkat prioritas menyeluruh untuk pengambilan keputusan. Pada tahap ini dilakukan suatu pembobotan dan penjumlahan untuk menghasilkan suatu prioritas tiap faktor. Proses pembobotan diolah dengan microsoft excel dengan menggunakan rumus rata-rata geometri seperti di bawah ini:
Keterangan : X1 = responden kesatu
Xn = responden ke- n
N = Jumlah responden
Data numerik digambarkan dalam bentuk matriks, dilakukan normalisasi dengan membagi tiap-tiap entri dengan jumlah nilai kolom pada matriks. Proses sintesis ini akan dihasilkan persentase prioritas atau preferensi untuk tiap-tiap alternatif.
3.5.3 Analisis dan Grafis
Setelah mendapatkan hasil dari sintesis, diketahui nilai prioritas dari tiap-tiap kriteria dan alternatif, tahap selanjutnya yaitu melakukan analisis, untuk mengetahui alternatif bank mana yang paling baik bagi nasabah. Analisis ini juga akan dijelaskan dalam bentuk grafik. Setelah hasil analisis dilakukan, maka selanjutnya memberikan kesimpulan dan saran untuk pengembangan dari penelitian yang telah dilakukan.
Tugas ini ditujukan kepada Bpk. Prihantoro
Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah konsumen barang-barang convenience yang berbelanja baik pada retail modern (minimarket, supermarket dan hypermarket) maupun retail tradisional (pasar tradisional) yang berada di wilayah kota Bekasi. Alasan penulis memilih kota Bekasi sebagai objek dalam penelitian ini adalah karena kota Bekasi merupakan salah satu kota yang terdapat di provinsi Jawa Barat, Indonesia, yang berada dalam lingkungan megapolitan Jabodetabek dan menjadi kota besar keempat di Indonesia. Saat ini kota Bekasi berkembang menjadi kawasan sentra industri dan kawasan tempat tinggal kaum urban. Secara geografis kota Bekasi berada pada ketinggian 19 m diatas permukaan laut. Kota ini terletak di sebelah timur Jakarta, berbatasan dengan Jakarta Timur di barat, kabupaten Bekasi di utara dan timur, kabupaten Bogor di selatan, serta kota Depok di sebelah barat daya. Dari total luas wilayahnya, lebih dari 50 % sudah menjadi kawasan efektif perkotaan dengan 90 % telah menjadi kawasan perumahan, 4 % telah menjadi kawasan industri, 3 % telah digunakan untuk perdagangan, dan sisanya untuk bangunan lainnya.
3.2 Pengumpulan Data
3.2.1 Data Primer
Pengambilan data melalui data primer dengan cara menyebarkan kuesioner pada konsumen barang-barang convenience yang berbelanja baik pada retail modern maupun retail tradisional. Pendapat Kasmir (2004) tentang kuesioner yaitu, metode dengan cara mengajukan formulir pertanyaan kepada responden atau konsumen yang diinginkan. Konsumen diminta untuk menjawab setiap pertanyaan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya tanpa adanya tekanan dari pihak periset. Dalam formulir dijelaskan cara-cara untuk menjawab pertanyaan. Proses pengambilan data dilakukan dengan penarikan sampel dari konsumen barang convenience yang berbelanja baik pada retail modern maupun retail tradisional.
3.2.2 Data Sekunder
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai literatur yang berhubungan dengan penelitian dan informasi dari Biro Pusat Statistik (BPS), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Pemerintah Daerah. Data sekunder dalam penelitian ini berupa perkembangan usaha ritel di Indonesia, baik ritel tradisional maupun ritel modern.
3.3 Populasi dan Penentuan Sampel
Populasi penelitian ini adalah konsumen barang-barang convinience yang berbelanja di pasar retail tradisional maupun retail modern baik retail kecil dan menengah maupun retail besar, di wilayah Bekasi Jawa Barat. Jumlah penduduk kota Bekasi adalah 2.336.489 jiwa (Hasil SP 2010).
Pemilihan sampel dalam penelitian pendahuluan dilakukan dengan menggunakan purposive sampling, agar hasil penelitian sesuai dengan tujuan penelitian. Agar responden yang terpilih memiliki kesamaan persepsi maka perlu diberikan batasan, diantaranya:
1. Responden berada berusia produktif 17 – 55 tahun, dengan asumsi dalam usia produktif, responden memiliki kemampuan dan keputusan sendiri dalam berbelanja.
2. Responden memiliki penghasilan
3. Responden berbelanja rutin di gerai retail kecil, menengah dan besar.
4. Responden berdomilisi di Bekasi Jawa Barat.
Pemilihan sampel dilakukan dengan eksploratori data, serta pengamatan dan interview pendahuluan dengan praktisi dan ahli lain dalam bidang perilaku konsumen dan kependudukan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan konsumen retail dan retail itu sendiri.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel perilaku konsumen yang selanjutnya akan dijadikan kriteria bagi konsumen dalam pemilihan tempat belanja. Adapun operasionalisasi kriteria di atas adalah sebagai berikut:
a) Kualitas Barang
Kedalaman, luas dan kualitas keragaman barang merupakan determinan dalam memilih toko dan berlaku pada suatu hypermarket. Pada masa kini banyak toko yang berkembang dengan pesat dalam kemampuan bersaing, karena kemampuan mereka menyusun dan menyajikan ragam barang yang dominan serta menyediakan barang-barang dengan kualitas yang baik dan terjamin.
b) Lokasi
Koefisien korelasi bertanda positif sebesar 0.600 menunjukkan hubungan Lokasi dengan Promosi searah, artinya jika variabel Lokasi pada ritel minimarket diterima baik oleh konsumen maka variabel Promosi semakin baik pula diterima konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Sebaliknya jika variabel Lokasi di ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen maka variabel Promosi pada ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Misalnya, dengan lokasi yang strategis dan promosi yang dapat dipercaya akan menarik konsumen untuk berbelanja pada ritel minimarket tersebut, hal ini dapat membentuk kepuasan konsumen pada ritel minimarket.
c) Kelengkapan Barang
Kelengkapan barang meliputi aneka macam jenis produk yang ditawarkan pihak penjual. Kelengkapan barang yang akan dibeli konsumen merupakan salah satu faktor yang menentukan konsumen dalam pemilihan tempat belanja. Konsumen akan lebih tertarik untuk berbelanja pada tempat yang menawarkan kelengkapan barang, karena tidak perlu berpindah tempat bila ingin berbelanja dengan bermacam barang.
d) Pelayanan
Koefisien korelasi bertanda positif sebesar 0.596 menunjukkan hubungan Kelengkapan Produk dengan Pelayanan searah, artinya jika variabel Kelengkapan Produk pada ritel minimarket diterima baik oleh konsumen maka variabel Pelayanan semakin baik pula diterima konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Sebaliknya jika variabel Kelengkapan Produk di ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen maka variabel Pelayanan pada ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Misalnya, dengan jenis produk yang ditawarkan lengkap dan pelayanan yang cepat akan menarik konsumen untuk berbelanja pada ritel minimarket tersebut, hal ini dapat membentuk kepuasan konsumen pada ritel minimarket.
3.5 Analisis Data
3.5.1 Perancangan Model Hierarki
Dalam tahap ini akan dibuat suatu kerangka hierarki yang dijadikan untuk pengambilan keputusan yang efektif atas permasalahan yang kompleks. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam proses pengambilan keputusan.
Perancangan model hierarki tergantung kepada keputusan yang diambil. Pada tingkat dasar yaitu alternatif-alternatif yang objektif. Dalam penelitian ini alternatifnya adalah retail tradisional dan retail modern. Tingkat berikutnya yaitu kriteria-kriteria sebagai pertimbangan dari alternatif-alternatif. Pada tingkat puncak hanya satu elemen, yaitu tujuan menyeluruh.
Untuk dasar pembuatan kuesioner didapatkan dari AHP itu sendiri, yang merupakan proses pengambilan keputusan dengan memberikan perbandingan berpasangan pada tiap-tiap faktor dan memberikan bobot penilaian untuk preferensi dari tiap-tiap perbandingan.
Menurut Saaty (1993) pada dasarnya, metode Proses Hierarki Analitik ini memecah-mecah suatu situasi yang kompleks, tak terstruktur ke dalam bagian-bagian komponennya, menata bagian atau variable ini dalam suatu susunan hierarki, memberi nilai numeric pada pertimbangan subyektif tentang relative pentingnya setiap variabel, dan mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.
Hasil yang diperoleh dari kuesioner, tidak ditampilkan semua dalam penelitian ini karena variabel yang digunakan pada penelitian ini hanya terdiri dari empat variabel yaitu kualitas barang, lokasi, kelengkapan barang, dan pelayanan. Sehingga data yang akan dibahas pada pembahasan disesuaikan dengan variabel yang digunakan.
Dari kuesioner tersebut, responden akan membandingkan antara kolom kiri dan kolom kanan mana yang dianggap lebih penting. Kemudian memberikan tanda () pada kolom yang sesuai untuk penilaian tingkat kepentingan antara masing-masing faktor. Keterangan skor/bobot dalam kuesioner tersebut adalah:
Angka 1 = sama pentingnya: dua hal yang diperbaningkan sama pentingnya
Angka 3 = sedikit (moderate) lebih penting: satu hal yang diperbandingkan sedikit (moderate) lebih penting dibandingkan dengan komponen lainnya.
Angka 5 = Lebih penting: satu hal yang diperbandingkan lebih penting dibandingkan dengan komponen lainnya.
Angka 7 = Sangat lebih penting: satu hal yang diperbandingkan sangat lebih penting dibandingkan dengan komponen lainnya.
Angka 9 = Mutlak lebih penting: satu hal yang diperbandingkan mutlak (extreme) lebih penting dibandingkan dengan komponen lainnya.
Angka 2, 4, 6, 8 menyatakan tingkat kepentingan diantara angka-angka tersebut di atas, misalnya 3 dan 5, merupakan pilihan yang memiliki kualifikasi antara sedikit (moderate) lebih penting dan lebih penting.
3.5.2 Pemrosesan Data
Setelah data diperoleh, maka tahap selanjutnya adalah melakukan pemrosesan data. Kita harus mensistensis atau menyatukan pertimbangan yang dibuat dengan melakukan perbandingan berpasangan untuk mendapatkan peringkat prioritas menyeluruh untuk pengambilan keputusan. Pada tahap ini dilakukan suatu pembobotan dan penjumlahan untuk menghasilkan suatu prioritas tiap faktor. Proses pembobotan diolah dengan microsoft excel dengan menggunakan rumus rata-rata geometri seperti di bawah ini:
Keterangan : X1 = responden kesatu
Xn = responden ke- n
N = Jumlah responden
Data numerik digambarkan dalam bentuk matriks, dilakukan normalisasi dengan membagi tiap-tiap entri dengan jumlah nilai kolom pada matriks. Proses sintesis ini akan dihasilkan persentase prioritas atau preferensi untuk tiap-tiap alternatif.
3.5.3 Analisis dan Grafis
Setelah mendapatkan hasil dari sintesis, diketahui nilai prioritas dari tiap-tiap kriteria dan alternatif, tahap selanjutnya yaitu melakukan analisis, untuk mengetahui alternatif bank mana yang paling baik bagi nasabah. Analisis ini juga akan dijelaskan dalam bentuk grafik. Setelah hasil analisis dilakukan, maka selanjutnya memberikan kesimpulan dan saran untuk pengembangan dari penelitian yang telah dilakukan.
Tugas ini ditujukan kepada Bpk. Prihantoro
Selasa, 25 Oktober 2011
Landasan Teori ( BAB II )
1.Teori Dasar/ Konsep
Ritel berasal dari kata retail yang berarti eceran. Bisnis ritel merupakan suatu bisnis menjual produk dan jasa pelayanan yang telah diberi nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, atau pengguna akhir lainnya. Aktivitas nilai tambah yang ada dalam bisnis ritel diantaranya meliputi assortment, holding inventory, dan providing service (Sopiah, 2008). Bisnis ritel di Indonesia dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu ritel tradisional dan ritel modern. Ritel modern pada dasarnya merupakan pengembangan dari ritel tradisional. Format ritel ini muncul dan berkembang seiring perkembangan perekonomian, teknologi, dan gaya hidup masyarakat yang menuntut kenyamanan lebih dalam berbelanja (Pandin, 2009).
2.Tinjauan Riset Terdahulu/ Sejenis
Hendrikus Arinanda, 2009, Analisis variabel pembentuk kepuasan konsumen pada ritel minimarket Alfamart dan Indomaret di wilayah Pesanggrahan Jakarta Selatan. Dalam analisisnya, ia menggunakan variabel lokasi, promosi, harga, kelengkapan produk, dan pelayanan.
Padyan Khatimi, 2011, Pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengetahui perilaku konsumen dalam memilih tempat belanja ditinjau dari faktor kualitas barang, kelengkapan barang, jarak dan waktu buka (studi kasus pada masyarakat di kota Depok). Dalam analisisnya, ia menggunakan variabel kualitas barang, kelengkapan barang, jarak, dan waktu buka.
Dari tinjauan riset terdahulu, saya mengambil 4 variabel, yaitu kualitas barang, lokasi, kelengkapan barang, dan pelayanan.
Indikator/ Tolak Ukur :
a) Kualitas Barang
Kedalaman, luas dan kualitas keragaman barang merupakan determinan dalam memilih toko dan berlaku pada suatu hypermarket. Pada masa kini banyak toko yang berkembang dengan pesat dalam kemampuan bersaing, karena kemampuan mereka menyusun dan menyajikan ragam barang yang dominan serta menyediakan barang-barang dengan kualitas yang baik dan terjamin.
b) Lokasi
Koefisien korelasi bertanda positif sebesar 0.600 menunjukkan hubungan Lokasi dengan Promosi searah, artinya jika variabel Lokasi pada ritel minimarket diterima baik oleh konsumen maka variabel Promosi semakin baik pula diterima konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Sebaliknya jika variabel Lokasi di ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen maka variabel Promosi pada ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Misalnya, dengan lokasi yang strategis dan promosi yang dapat dipercaya akan menarik konsumen untuk berbelanja pada ritel minimarket tersebut, hal ini dapat membentuk kepuasan konsumen pada ritel minimarket.
c) Kelengkapan Barang
Kelengkapan barang meliputi aneka macam jenis produk yang ditawarkan pihak penjual. Kelengkapan barang yang akan dibeli konsumen merupakan salah satu faktor yang menentukan konsumen dalam pemilihan tempat belanja. Konsumen akan lebih tertarik untuk berbelanja pada tempat yang menawarkan kelengkapan barang, karena tidak perlu berpindah tempat bila ingin berbelanja dengan bermacam barang.
d) Pelayanan
Koefisien korelasi bertanda positif sebesar 0.596 menunjukkan hubungan Kelengkapan Produk dengan Pelayanan searah, artinya jika variabel Kelengkapan Produk pada ritel minimarket diterima baik oleh konsumen maka variabel Pelayanan semakin baik pula diterima konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Sebaliknya jika variabel Kelengkapan Produk di ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen maka variabel Pelayanan pada ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Misalnya, dengan jenis produk yang ditawarkan lengkap dan pelayanan yang cepat akan menarik konsumen untuk berbelanja pada ritel minimarket tersebut, hal ini dapat membentuk kepuasan konsumen pada ritel minimarket.
4.Pengembangan Hipotesis
Kesimpulan sementara dari riset terdahulu, variabel yang paling mempengaruhi adalah kualitas barang, kelengkapan barang, lokasi, dan pelayanan.
Tugas ini ditujukan kepada Bpk. Prihantoro
Ritel berasal dari kata retail yang berarti eceran. Bisnis ritel merupakan suatu bisnis menjual produk dan jasa pelayanan yang telah diberi nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, atau pengguna akhir lainnya. Aktivitas nilai tambah yang ada dalam bisnis ritel diantaranya meliputi assortment, holding inventory, dan providing service (Sopiah, 2008). Bisnis ritel di Indonesia dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu ritel tradisional dan ritel modern. Ritel modern pada dasarnya merupakan pengembangan dari ritel tradisional. Format ritel ini muncul dan berkembang seiring perkembangan perekonomian, teknologi, dan gaya hidup masyarakat yang menuntut kenyamanan lebih dalam berbelanja (Pandin, 2009).
2.Tinjauan Riset Terdahulu/ Sejenis
Hendrikus Arinanda, 2009, Analisis variabel pembentuk kepuasan konsumen pada ritel minimarket Alfamart dan Indomaret di wilayah Pesanggrahan Jakarta Selatan. Dalam analisisnya, ia menggunakan variabel lokasi, promosi, harga, kelengkapan produk, dan pelayanan.
Padyan Khatimi, 2011, Pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengetahui perilaku konsumen dalam memilih tempat belanja ditinjau dari faktor kualitas barang, kelengkapan barang, jarak dan waktu buka (studi kasus pada masyarakat di kota Depok). Dalam analisisnya, ia menggunakan variabel kualitas barang, kelengkapan barang, jarak, dan waktu buka.
Dari tinjauan riset terdahulu, saya mengambil 4 variabel, yaitu kualitas barang, lokasi, kelengkapan barang, dan pelayanan.
Indikator/ Tolak Ukur :
a) Kualitas Barang
Kedalaman, luas dan kualitas keragaman barang merupakan determinan dalam memilih toko dan berlaku pada suatu hypermarket. Pada masa kini banyak toko yang berkembang dengan pesat dalam kemampuan bersaing, karena kemampuan mereka menyusun dan menyajikan ragam barang yang dominan serta menyediakan barang-barang dengan kualitas yang baik dan terjamin.
b) Lokasi
Koefisien korelasi bertanda positif sebesar 0.600 menunjukkan hubungan Lokasi dengan Promosi searah, artinya jika variabel Lokasi pada ritel minimarket diterima baik oleh konsumen maka variabel Promosi semakin baik pula diterima konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Sebaliknya jika variabel Lokasi di ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen maka variabel Promosi pada ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Misalnya, dengan lokasi yang strategis dan promosi yang dapat dipercaya akan menarik konsumen untuk berbelanja pada ritel minimarket tersebut, hal ini dapat membentuk kepuasan konsumen pada ritel minimarket.
c) Kelengkapan Barang
Kelengkapan barang meliputi aneka macam jenis produk yang ditawarkan pihak penjual. Kelengkapan barang yang akan dibeli konsumen merupakan salah satu faktor yang menentukan konsumen dalam pemilihan tempat belanja. Konsumen akan lebih tertarik untuk berbelanja pada tempat yang menawarkan kelengkapan barang, karena tidak perlu berpindah tempat bila ingin berbelanja dengan bermacam barang.
d) Pelayanan
Koefisien korelasi bertanda positif sebesar 0.596 menunjukkan hubungan Kelengkapan Produk dengan Pelayanan searah, artinya jika variabel Kelengkapan Produk pada ritel minimarket diterima baik oleh konsumen maka variabel Pelayanan semakin baik pula diterima konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Sebaliknya jika variabel Kelengkapan Produk di ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen maka variabel Pelayanan pada ritel minimarket kurang diterima oleh konsumen yang berbelanja pada ritel minimarket. Misalnya, dengan jenis produk yang ditawarkan lengkap dan pelayanan yang cepat akan menarik konsumen untuk berbelanja pada ritel minimarket tersebut, hal ini dapat membentuk kepuasan konsumen pada ritel minimarket.
4.Pengembangan Hipotesis
Kesimpulan sementara dari riset terdahulu, variabel yang paling mempengaruhi adalah kualitas barang, kelengkapan barang, lokasi, dan pelayanan.
Tugas ini ditujukan kepada Bpk. Prihantoro
Jumat, 14 Oktober 2011
Tugas Softskill Pertemuan 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Rambut adalah mahkota manusia dan perlu dijaga keindahannya dengan melakukan perawatan yang tepat dan cermat. Rambut juga merupakan salah satu bagian penting yang dinilai dari keseluruhan penampilan seseorang. Bila penampilan rambut seseorang indah dipandang, maka kesan yang didapat adalah penampilan keseluruhan dari orang tersebut juga baik. Oleh karena penampilan rambut dirasa cukup penting, maka terkadang orang merasa tidak percaya diri jika mempunyai rambut tidak terawat keindahannya. Apalagi, jika keindahan rambut dihalangi oleh munculnya ketombe pada rambut, yang dapat dikatakan cukup mengganggu. Biasanya, selain membuat rambut tidak indah dan tidak sehat, ketombe juga menyebabkan rasa gatal di kulit kepala dan meninggalkan serpih putih di baju, yang tentu saja membuat semakin tidak percaya diri bila berdekatan dengan orang-orang di sekitarnya.
Ketombe bercirikan terlepasnya serpih-serpih berlebihan dari kulit kepala yang biasanya disertai gatal-gatal (Tjay dan Rahardja, 2002). Ketombe merupakan suatu pertumbuhan berlebihan kulit kepala tanpa peradangan. Ketombe atau yang dalam bahasa medisnya dikenal dengan nama ptiriasis sika (dandruff) banyak diderita oleh penduduk Indonesia yang memiliki iklim tropis, suhu tinggi dan udara lembab. Pada dasarnya penyakit ini disebabkan oleh sejenis kapang (jamur) jenis pytirosporum ovale yang banyak mengenai orang yang memiliki kulit berminyak. Jamur ini menyebabkan rontoknya kulit kepala berbentuk sisik putih.
Ketombe tidak bisa disembuhkan total. Penyakit ini hanya bisa dihilangkan sementara dan dicegah datang lagi dengan merawat secara rutin. Tapi, kemungkinan ia muncul kembali tetap ada dikemudian hari (Fluhr, 2004). Perawatan rambut dan kulit secara rutin agar terhindar dari ketombe tentu memerlukan persediaan shampo antiketombe. Berbicara mengenai shampo antiketombe, produk kosmetik untuk rambut yang satu ini telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan/nyata. Pada awalnya, shampo antiketombe hanya digunakan untuk menghilangkan ketombe pada rambut dan kulit kepala. Namun sekarang, seiring dengan perkembangan zaman, pertumbuhan usia, serta pola/gaya hidup manusia yang cenderung tidak sehat, masalah rambut pun semakin banyak, seperti rambut rontok, kusam, berminyak, kering dan masalah-masalah rambut lainnya. Maka produk shampo antiketombe yang sekarang beredar di pasaran, tidak sekedar berfungsi untuk menghilangkan ketombe pada rambut dan kulit kepala, tetapi ada juga yang sekaligus mencegah rambut rontok, melembabkan, mengurangi kelebihan minyak dan sebagainya.
Potensi yang sangat besar dalam bisnis shampo antiketombe perlu disikapi secara tepat oleh produsen. Dalam hal ini penting sekali pemahaman tentang perilaku konsumen. Bagaimana konsumen mengambil keputusan dan apa yang mempengaruhi keputusan konsumen tersebut akan membantu produsen menciptakan produk sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen. Pada akhirnya, produsen siap bersaing untuk menarik konsumen shampo antiketombe, tidak terkecuali wanita usia 15-24 tahun, yang bisa dikatakan tergolong kalangan anak muda yang masuk dalam target pasar shampo antiketombe.
1.2 Perumusan Masalah
Persaingan untuk menarik konsumen antar merek shampo antiketombe pada saat ini semakin ketat. Hal ini didukung dengan semakin banyaknya merek shampo antiketombe yang menawarkan beragam manfaat khusus di samping manfaat utamanya menghilangkan ketombe. Setiap produsen berusaha menciptakan kesan di mata konsumen bahwa produknya yang terbaik atau bila perlu mengubah pola pikir dan perilaku konsumen.
Pengetahuan tentang bagaimana konsumen mengambil keputusan dalam memilih shampo antiketombe yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya sangat penting diketahui oleh produsen dalam menghadapi persaingan. Keputusan pembeian produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan tersebut tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui suatu proses dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Proses keputusan pembelian konsumen terdiri dari tahap pengenalan kebutuhan, tahap pencarian informasi, tahap evaluasi alternatif, tahap pembelian dan tahap perilaku pascapembelian. Proses keputusan pembelian konsumen tersebut juga di pengaruhi oleh faktor-faktor seperti faktor perbedaan individu, faktor pengaruh lingkungan, faktor proses psikologis dan atribut produk.
1.3 Landasan Teori
Potensi pasar shampo antiketombe di Indonesia sangat besar. Hal ini salah satunya didukung oleh rentannya penduduk Indonesia menderita ketombe akibat iklimnya yang tropis, suhu tinggi dan udara lembab. Kondisi ini mendorong para produsen untuk memperkenalkan berbagai merek shampo antiketombe yang menawarkan beragam manfaat khusus di samping manfaat utamanya menghilangkan ketombe. Produsen berusaha menciptakan kesan di mata konsumen bahwa produknya yang terbaik dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Upaya penyesuaian produk dengan kebutuhan dan keinginan konsumen tentu memerlukan pemahaman tentang perilaku konsumen.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen merupakan suatu aspek penting yang harus diperhatikan dalam memenuhi dan melayani kebutuhan dan keinginan konsumen. Menurut Sumarwan (2003), perilaku konsumen merupakan kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal di atas atau kegiatan mengevaluasi. Perilaku konsumen merupakan proses pengambilan keputusan dan aktivitas masing-masing individu yang dilakukan dalam rangka evaluasi, penggunaan atau mengatur barang-barang dan jasa (Nugroho, 2002). Menurut Mangkunegara (2002), perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan dan menggunakan barang-barang ekonomis yang dapat dipengaruhi lingkungan.
Sementara itu menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1994) perilaku konsumen didefinisikan sebagai tindakan yang secara langsung ditujukan untuk mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses pengambilan keputusan yang mengawali dan mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Perilaku konsumen mencerminkan tanggapan mereka terhadap berbagai rangsangan, baik dari pemasar berupa rangsangan pemasaran maupun dari diri mereka sendiri yang berupa pengaruh lingkungan, perbedaan individu dan proses psikologis.
2.2 Proses Keputusan Pembelian Konsumen
Keputusan adalah seleksi terhadap dua pilihan atau lebih (Schiffman dan Kanuk, 2004). Proses keputusan pembelian konsumen menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1994) terdiri dari lima tahap, yaitu: pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, pembelian dan evaluasi pascapembelian.
Pengenalan kebutuhan selalu dilewati oleh konsumen sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk. Pengenalan kebutuhan muncul ketika konsumen menghadapi suatu masalah yaitu suatu keadaan dimana terdapat perbedaan antara keadaan yang diinginkan dengan keadaan yang sebenarnya terjadi (Sumarwan, 2003).
Timbulnya kebutuhan dapat dipicu oleh stimuli intern, yaitu kebutuhan dasar seseorang yang akan timbul suatu saat pada suatu tingkat tertentu dan menjadi suatu dorongan yang memotivasi orang itu untuk segera memuaskan dorongan tersebut. Selain itu kebutuhan dapat juga berasal dari stimuli ekstern, yaitu lingkungan yang mengkondisikan konsumen untuk mengkonsumsi (Kotler, 1997).
Pencarian informasi didefinisikan sebagai suatu kegiatan termotivasi dari pengetahuan yang tersimpan di dalam ingatan (pencarian internal) dan pengetahuan informasi dari pasar (pencarian eksternal). Seberapa besar pencarian yang dilakukan oleh seseorang tergantung pada kekuatan dorongannya, jumlah informasi yang dimiliki, kemudahan memperoleh informasi tambahan, nilai yang ia berikan pada informasi tambahan dan kepuasan yang ia peroleh dari pencarian tersebut. Bila informasi yang didapat dari pencarian internal tidak memadai untuk memberikan arah tindakan yang memuaskan, maka pencarian eksternal akan dilakukan (Kotler, 1997).
Menurut Kotler (1997), sumber-sumber informasi konsumen terdiri dari empat kelompok, yaitu:
1.Sumber pribadi : keluarga, teman, tetangga, kenalan
2.Sumber komersial : iklan, tenaga penjual, pedagang perantara
3.Sumber umum : media massa, organisasi penilai konsumen
4.Sumber pengalaman : penanganan, pemeriksaan penggunaan produk.
Sumber-sumber informasi yang berbeda dapat menuntun konsumen pada keputusan pembelian yang berbeda.
Faktor lain yang mempengaruhi tahap pencarian informasi adalah situasi, ciri-ciri produk, lingkungan eceran dan konsumen itu sendiri. Tekanan waktu merupakan salah satu sumber pengaruh situasi. Situasi pembelian yang mendesak menuntut sedikit waktu untuk melakukan pencarian ekstensif dan teliti. Pencarian ekstensif juga akan dilakukan jika konsumen merasakan adanya perbedaan ciri¬ciri produk diantara merek-merek yang ada. Lingkungan eceran akan mempengaruhi pencarian oleh konsumen karena jarak antara pesaing eceran dapat menentukan banyaknya toko yang menjadi tempat belanja konsumen selama pengambilan keputusan. Terakhir, karakteristik konsumen yang meliputi pengetahuan, keterlibatan, kepercayaan, sikap dan karakteristik demografi akan ikut mempengaruhi tahap pencarian informasi (Engel, Blackwell dan Miniard, 1995).
Evaluasi alternatif merupakan tahap dimana konsumen mengevaluasi berbagai alternatif dan membuat pertimbangan nilai yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan. Konsumen harus: (1) menentukan kriteria evaluasi yang akan digunakan, (2) memutuskan alternatif mana yang akan dipertimbangkan, (3) menilai kinerja dari alternatif yang dipertimbangkan dan (4) memilih dan menerapkan kaidah keputusan untuk membuat suatu pilihan akhir.
Pada pemilihan alternatif, konsumen menggunakan atribut tertentu yang disebut kriteria evaluasi. Kriteria evaluasi yang sering digunakan antara lain harga, kepercayaan konsumen akan merek, dan kriteria asal yang bersifat hedonik (prestise, status). Setelah menentukan kriteria evaluasi yang akan digunakan untuk menilai alternatif, maka konsumen memutuskan alternatif mana yang akan dipertimbangkan. Tahap ini terdiri dari menentukan alternatif-alternatif pilihan, menilai alternatif-alternatif pilihan dan terakhir menyeleksi kaidah keputusan (Engel, Blackwell dan Miniard, 1995).
Pembelian meliputi keputusan konsumen mengenai apa yang dibeli, apakah membeli atau tidak, kapan membeli, dimana membeli, dan bagaimana cara membayarnya. Termasuk di dalamnya adalah toko di mana dia akan membelinya serta pembayaran yang akan dilakukannya. Apakah dia membayar tunai atau cicilan (Sumarwan, 2003).
Evaluasi pascapembelian dapat berupa konsumen puas atau tidak puas terhadap konsumsi produk atau merek yang telah dilakukannya. Setelah mengkonsumsi suatu produk atau jasa, konsumen akan memiliki rasa puas atau tidak puas terhadap produk atau jasa yang dikonsumsinya. Kepuasan akan mendorong konsumen membeli dan mengkonsumsi ulang produk tersebut. Sebaliknya perasaan yang tidak puas akan menyebabkan konsumen kecewa dan menghentikan pembelian kembali dan konsumsi produk tersebut (Sumarwan, 2003).
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Proses keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor sehingga keputusan antara satu konsumen dengan konsumen yang lain berbeda. Faktor-faktor tersebut diantaranya pengaruh lingkungan, pengaruh perbedaan induvidu, pengaruh proses psikologis dan atribut produk.
Pengaruh lingkungan terdiri dari : (1) budaya, (2) kelas sosial, (3) pengaruh pribadi, (4) keluarga dan (5) pengaruh situasi. Budaya mengacu pada seperangkat nilai, gagasan, sikap dan simbol lain yang bermakna yang membantu manusia untuk berkomunikasi, membuat tafsiran dan melakukan evaluasi sebagai anggota masyarakat. Walaupun seorang konsumen bebas dalam menentukan pilihan namun karena mereka hidup di lingkungan dengan kebudayaan yang mempunyai batasan-batasan tertentu, maka kebebasan tersebut juga dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial budaya dan norma-norma masyarakat tersebut. Budaya mempengaruhi perilaku konsumen dalam tiga faktor yaitu: (1) budaya mempengaruhi struktur konsumsi, (2) budaya mempengaruhi bagaimana individu mengambil keputusan dan (3) budaya adalah variabel utama dalam penciptaan dan komunikasi makna dari sebuah produk (Engel, Blackwell dan miniard, 1994). Budaya juga didefinisikan sebagai hasil kreatifitas manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya yang sangat menentukan bentuk perilaku dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat (Mangkunegara, 2002). Budaya merupakan faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang yang paling fundamental (Kotler, 1997).
Kelas sosial adalah pembagian di dalam masyarakat yang terdiri dari individu-individu dengan berbagai nilai, minat dan perilaku pembelian yang sama. Ukuran-ukuran yang biasa dipakai untuk menggolongkan masyarakat ke dalam kelas sosial antara lain pendapatan, pendidikan, pekerjaan, kekayaan dan sebagainya. Kelas sosial menunjukan preferensi produk dan pemilihan merek yang berbeda-beda dalam berbagai kategori produk tertentu serta pakaian, perabotan rumah, kegiatan waktu luang dan kendaraan (Kotler, 1997).
Pengaruh pribadi sering memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan konsumen. Hal ini diekspresikan baik melalui kelompok acuan atau pun melalui komunikasi lisan. Kelompok acuan ini terbagi dua yaitu kelompok primer seperti keluarga, teman, tetangga dan teman kerja di mana orang tersebut secara terus menerus berinteraksi dengan mereka dan sifatnya cenderung informil. Kelompok sekunder yaitu kelompok yang bersifat lebih formil dan mempunyai interaksi yang tidak begitu rutin seperti kelompok keagamaan, profesi dan kelompok asosiasi perdagangan (Engel, Blackwell dan Miniard, 1994).
Keluarga merupakan sebuah kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih yang terikat oleh perkawinan, darah (keturunan: anak/cucu) dan adopsi Kelompok orang tersebut biasanya tinggal bersama dalam satu rumah. Namun, bisa saja bahwa semua anggota keluarga tersebut tidak tinggal di dalam satu rumah (Sumarwan, 2003). Keluarga sangat penting dalam perilaku konsumen karena merupakan pemberi pengaruh utama pada sikap dan perilaku individu. Dibandingkan dengan kelompok-kelompok lain dimana seseorang berhubungan langsung, keluarga memainkan peranan terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku manusia (Engel, Blackwell dan miniard, 1994).
Pengaruh situasi dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari faktor yang khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik konsumen dan karakteristik objek. Situasi dapat memberikan pengaruh yang kuat dalam perilaku konsumen. Perilaku berubah ketika situasi berubah. Pengaruh situasi dapat timbul dari lingkungan fisik (lokasi, tata ruang, suara, warna ), lingkungan sosial (orang lain), waktu atau moment, tugas (tujuan dan sasaran pembelian) serta keadaan anteseden (suasana hati dan kondisi sementara konsumen) (Engel, Blackwell dan Miniard, 1994).
Perbedaan Individu terdiri dari: (1) sumberdaya konsumen, (2) motivasi dan keterlibatan, (3) pengetahuan, (4) sikap dan (5) keperibadian, nilai dan gaya hidup. Sumberdaya konsumen yang digunakan dalam proses pembelian barang dan jasa terdiri dari tiga, yaitu: sumberdaya ekonomi, temporal dan kognitif. Hal ini berarti bahwa pemasar bersaing untuk mendapatkan uang, waktu dan perhatian konsumen. Persepsi konsumen mengenai sumberdaya yang tersedia mungkin mempengaruhi ketersediaan untuk menggunakan uang dan waktu untuk produk. Motivasi yaitu suatu dorongan dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya yang diarahkan pada tujuan memperoleh kepuasan. Sedangkan keterlibatan mengacu pada tingkat hubungan yang didasari dalam tindakan pembelian dan konsumsi (Engel, Blackwell dan Miniard, 1994).
Pengetahuan dapat didefinisikan sebagai kumpulan informasi yang disimpan dalam ingatan konsumen. Pengetahuan konsumen terbagi ke dalam tiga kategori yaitu: (1) pengetahuan produk mencakup atribut produk dan kepercayaan merek, (2) pengetahuan membeli (di mana dan kapan membeli) dan (3) pengetahuan pemakaian (dari iklan dan ingatan konsumen). Pengetahuan terbentuk melalui proses pembelajaran. Proses belajar pada suatu pembelian terjadi apabila konsumen ingin memperoleh suatu kepuasan, atau sebaliknya tidak terjadi apabila konsumen merasa dikecewakan oleh produk yang kurang baik (Engel, Blackwell dan Miniard, 1994).
Sikap merupakan suatu evaluasi menyeluruh yang memungkinkan orang berespon dengan cara menguntungkan atau tidak menguntungkan secara konsisten berkenaan dengan objek atau alternatif yang diberikan. Sikap seseorang mudah terpengaruh untuk memberikan tanggapan terhadap rangsangan lingkungan yang dapat memulai atau membimbing tingkah laku orang tersebut. Sikap ini dilakukan konsumen berdasarkan pandangannya terhadap produk dan proses belajar, baik dari pengalaman maupun dari yang lain (Kotler, 1995).
Kepribadian sebagai karakteristik psikologis yang berbeda dari seseorang yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan tetap terhadap lingkungannya. Kepribadian biasanya dijelaskan dengan ciri-ciri bawaan seperti percaya diri, otonomi, dominasi, perbedaan kondisi sosial, pembelaan diri dan kemampuan beradaptasi (Kotler, 1995) Nilai adalah kepercayaan atau segala sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang atau suatu masyarakat. Nilai bisa berarti sebuah kepercayaan tentang suatu hal, namun nilai bukan hanya kepercayaan. Nilai biasanya jumlahnya relatif lebih sedikit. Nilai mengarahkan seseorang untuk berperilaku yang sesuai dengan kepercayaannya. Nilai biasanya berlangsung lama dan sulit berubah. Nilai tidak terkait dengan suatu objek atau situasi. Nilai diterima oleh masyarakat. Gaya hidup adalah pola di mana orang hidup dan menghabiskan waktu serta uang. Bentuk operasional gaya hidup ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini seseorang (Engel, Blackwell dan Miniard, 1994).
Proses Psikologis memiliki tiga tahapan, yaitu (1) pengolahan informasi, (2) proses pembelajaran dan (3) perubahan sikap dan perilaku konsumen. Pengolahan informasi merupakan proses dimana rangsangan pemasaran diterima, ditafsirkan, disimpan dalam ingatan dan kemudian diambil lagi oleh konsumen untuk menilai alternatif-alternatif produk. Pengalaman konsumen didalam melakukan pembelian dapat menyebabkan perubahan dalam pengetahuan dan sikap. Proses ini disebut proses pembelajaran. Kedua proses di atas akan menyebabkan perubahan sikap konsumen (Engel, Blackwell dan Miniard, 1995). Program televisi sering menimbulkan pemicu psikologis pada penonton (misalnya, keinginan besar) yang mempengaruhi dampak pada iklan berikutnya.
Atribut produk dibedakan ke dalam atribut fisik dan atribut abstrak. Atribut fisik menggambarkan ciri-ciri fisik dari suatu produk. Atribut abstrak menggambarkan karakteristik subjektif dari suatu produk berdasarkan persepsi konsumen (Sumarwan, 2003). Atribut produk terdiri dari: (1) mutu, (2) merek, (3) kemasan, dan (4) label. Mutu merupakan keseluruhan ciri serta sifat dari suatu produk atau pelayanan yang berpengaruh pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat (Kotler, 1997). Mutu produk menunjukkan kemampuan sebuah produk untuk menjalankan fungsinya (Kotler dan Armstrong, 1995).
Merek adalah sebuah nama, istilah, tanda, simbol atau disain, atau kombinasi dari semuanya ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari seorang penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakan dari produk atau jasa pesaing. Konsumen memandang sebuah merek sebagai bagian yang penting dari produk dan pemberian merek dapat menambah nilai produk. Nama merek yang kuat memiliki kesetiaan konsumen yang kuat (Kotler dan Armstrong, 1995).
Kemasan merupakan wadah-kemas atau pembungkus yang dirancang atau diproduksi untuk suatu produk. Fungsi utama kemasan adalah sebagai tempat produk, akan tetapi pada akhir-akhir ini kemasan harus menjalankan banyak fungsi penjualan, mulai dari menarik perhatian hingga mendeskripsikan produk sampai pada membuat penjualan. Kemasan yang dirancang dengan baik, mempunyai kemampuan untuk secara langsung membuat para konsumen mengenal perusahaan atau merek (Kotler dan Armstrong, 1995).
Label adalah bagian dari kemasan dan merupakan informasi tercetak yang memuat keterangan mengenai produk yang bersangkutan, yang tampak pada atau bersatu dengan kemasan. Label mempunyai berbagai fungsi, penjual harus memutuskan label yang mana yang harus digunakan. Label mengidentifikasikan produk atau merek, mendeskripsikan beberapa hal tentang produk, dan mempromosikan produk melalui grafirnya yang menarik (Kotler dan Armstrong, 1995).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telah dibahas dan disajikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1) Televisi merupakan sumber informasi konsumen untuk mendapatkan shampo antiketombe dan sekaligus sebagai media yang sangat mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli shampo antiketombe.
2) Konsumen menjadikan manfaat fungsional dan harga sebagai pertimbangan awal dalam membeli shampo antiketombe, sementara kecocokan dengan rambut dan kulit kepala menjadi alasan konsumen memilih merek shampo antiketombe favorit.
3) Keputusan pembelian konsumen shampo antiketombe dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang terdiri dari faktor keluarga, pengetahuan tentang produk, gaya hidup, busa dan sistem distribusi.
4) Konsumen menilai kualitas shampo antiketombe yang dikonsumsi masih buruk atau kurang bisa menghilangkan ketombe. Manfaat khusus yang diharapkan dari shampo antiketombe dianggap biasa saja atau tidak terlalu dirasakan oleh konsumen. Shampo antiketombe yang dikonsumsi dinilai cukup wangi, kental, mereknya terkenal dan kemasan menarik.
3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat diberikan beberapa saran yang perlu kiranya mendapat perhatian dari pihak-pihak yang berkepentingan sebagai berikut :
1) Bagi produsen shampo antiketombe yang ingin memperkenalkan produk shampo antiketombe, sebaiknya menggunakan media informasi berupa iklan di televisi.
2) Bagi perusahaan shampo antiketombe, hendaknya lebih bijaksana dalam menetapkan harga sehingga konsumen tetap dapat membeli merek-merek favoritnya.
3) Mengingat bahwa masih banyak konsumen yang belum merasakan kualitas dari shampo antiketombe sebagai pencegah ketombe, maka disarankan supaya produsen meningkatkan manfaat kemampuan menghilangkan ketombe pada shampo antiketombe yang ditawarkan.
4) Melihat bahwa manfaat khusus dari shampo antiketombe masih pada rata-rata atau belum terlalu dirasakan oleh konsumen, maka pihak produsen shampo antiketombe sebaiknya terus melakukan riset-riset dan pengembangan produk untuk memberikan manfaat khusus yang diinginkan konsumen.
3.2 Daftar Pustaka
http//www.PRCM@Pikiran-Rakyat.com
Yahyu, Resna (2007), “Analisis Perilaku Konsumen Wanita dalam Pembelian Shampo Antiketombe di Kotamadya Bogor”.
Tugas ini ditujukan kepada Bpk. Seno Sudarmono Hadi
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Rambut adalah mahkota manusia dan perlu dijaga keindahannya dengan melakukan perawatan yang tepat dan cermat. Rambut juga merupakan salah satu bagian penting yang dinilai dari keseluruhan penampilan seseorang. Bila penampilan rambut seseorang indah dipandang, maka kesan yang didapat adalah penampilan keseluruhan dari orang tersebut juga baik. Oleh karena penampilan rambut dirasa cukup penting, maka terkadang orang merasa tidak percaya diri jika mempunyai rambut tidak terawat keindahannya. Apalagi, jika keindahan rambut dihalangi oleh munculnya ketombe pada rambut, yang dapat dikatakan cukup mengganggu. Biasanya, selain membuat rambut tidak indah dan tidak sehat, ketombe juga menyebabkan rasa gatal di kulit kepala dan meninggalkan serpih putih di baju, yang tentu saja membuat semakin tidak percaya diri bila berdekatan dengan orang-orang di sekitarnya.
Ketombe bercirikan terlepasnya serpih-serpih berlebihan dari kulit kepala yang biasanya disertai gatal-gatal (Tjay dan Rahardja, 2002). Ketombe merupakan suatu pertumbuhan berlebihan kulit kepala tanpa peradangan. Ketombe atau yang dalam bahasa medisnya dikenal dengan nama ptiriasis sika (dandruff) banyak diderita oleh penduduk Indonesia yang memiliki iklim tropis, suhu tinggi dan udara lembab. Pada dasarnya penyakit ini disebabkan oleh sejenis kapang (jamur) jenis pytirosporum ovale yang banyak mengenai orang yang memiliki kulit berminyak. Jamur ini menyebabkan rontoknya kulit kepala berbentuk sisik putih.
Ketombe tidak bisa disembuhkan total. Penyakit ini hanya bisa dihilangkan sementara dan dicegah datang lagi dengan merawat secara rutin. Tapi, kemungkinan ia muncul kembali tetap ada dikemudian hari (Fluhr, 2004). Perawatan rambut dan kulit secara rutin agar terhindar dari ketombe tentu memerlukan persediaan shampo antiketombe. Berbicara mengenai shampo antiketombe, produk kosmetik untuk rambut yang satu ini telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan/nyata. Pada awalnya, shampo antiketombe hanya digunakan untuk menghilangkan ketombe pada rambut dan kulit kepala. Namun sekarang, seiring dengan perkembangan zaman, pertumbuhan usia, serta pola/gaya hidup manusia yang cenderung tidak sehat, masalah rambut pun semakin banyak, seperti rambut rontok, kusam, berminyak, kering dan masalah-masalah rambut lainnya. Maka produk shampo antiketombe yang sekarang beredar di pasaran, tidak sekedar berfungsi untuk menghilangkan ketombe pada rambut dan kulit kepala, tetapi ada juga yang sekaligus mencegah rambut rontok, melembabkan, mengurangi kelebihan minyak dan sebagainya.
Potensi yang sangat besar dalam bisnis shampo antiketombe perlu disikapi secara tepat oleh produsen. Dalam hal ini penting sekali pemahaman tentang perilaku konsumen. Bagaimana konsumen mengambil keputusan dan apa yang mempengaruhi keputusan konsumen tersebut akan membantu produsen menciptakan produk sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen. Pada akhirnya, produsen siap bersaing untuk menarik konsumen shampo antiketombe, tidak terkecuali wanita usia 15-24 tahun, yang bisa dikatakan tergolong kalangan anak muda yang masuk dalam target pasar shampo antiketombe.
1.2 Perumusan Masalah
Persaingan untuk menarik konsumen antar merek shampo antiketombe pada saat ini semakin ketat. Hal ini didukung dengan semakin banyaknya merek shampo antiketombe yang menawarkan beragam manfaat khusus di samping manfaat utamanya menghilangkan ketombe. Setiap produsen berusaha menciptakan kesan di mata konsumen bahwa produknya yang terbaik atau bila perlu mengubah pola pikir dan perilaku konsumen.
Pengetahuan tentang bagaimana konsumen mengambil keputusan dalam memilih shampo antiketombe yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya sangat penting diketahui oleh produsen dalam menghadapi persaingan. Keputusan pembeian produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan tersebut tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui suatu proses dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Proses keputusan pembelian konsumen terdiri dari tahap pengenalan kebutuhan, tahap pencarian informasi, tahap evaluasi alternatif, tahap pembelian dan tahap perilaku pascapembelian. Proses keputusan pembelian konsumen tersebut juga di pengaruhi oleh faktor-faktor seperti faktor perbedaan individu, faktor pengaruh lingkungan, faktor proses psikologis dan atribut produk.
1.3 Landasan Teori
Potensi pasar shampo antiketombe di Indonesia sangat besar. Hal ini salah satunya didukung oleh rentannya penduduk Indonesia menderita ketombe akibat iklimnya yang tropis, suhu tinggi dan udara lembab. Kondisi ini mendorong para produsen untuk memperkenalkan berbagai merek shampo antiketombe yang menawarkan beragam manfaat khusus di samping manfaat utamanya menghilangkan ketombe. Produsen berusaha menciptakan kesan di mata konsumen bahwa produknya yang terbaik dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Upaya penyesuaian produk dengan kebutuhan dan keinginan konsumen tentu memerlukan pemahaman tentang perilaku konsumen.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen merupakan suatu aspek penting yang harus diperhatikan dalam memenuhi dan melayani kebutuhan dan keinginan konsumen. Menurut Sumarwan (2003), perilaku konsumen merupakan kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal di atas atau kegiatan mengevaluasi. Perilaku konsumen merupakan proses pengambilan keputusan dan aktivitas masing-masing individu yang dilakukan dalam rangka evaluasi, penggunaan atau mengatur barang-barang dan jasa (Nugroho, 2002). Menurut Mangkunegara (2002), perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan dan menggunakan barang-barang ekonomis yang dapat dipengaruhi lingkungan.
Sementara itu menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1994) perilaku konsumen didefinisikan sebagai tindakan yang secara langsung ditujukan untuk mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses pengambilan keputusan yang mengawali dan mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Perilaku konsumen mencerminkan tanggapan mereka terhadap berbagai rangsangan, baik dari pemasar berupa rangsangan pemasaran maupun dari diri mereka sendiri yang berupa pengaruh lingkungan, perbedaan individu dan proses psikologis.
2.2 Proses Keputusan Pembelian Konsumen
Keputusan adalah seleksi terhadap dua pilihan atau lebih (Schiffman dan Kanuk, 2004). Proses keputusan pembelian konsumen menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1994) terdiri dari lima tahap, yaitu: pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, pembelian dan evaluasi pascapembelian.
Pengenalan kebutuhan selalu dilewati oleh konsumen sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk. Pengenalan kebutuhan muncul ketika konsumen menghadapi suatu masalah yaitu suatu keadaan dimana terdapat perbedaan antara keadaan yang diinginkan dengan keadaan yang sebenarnya terjadi (Sumarwan, 2003).
Timbulnya kebutuhan dapat dipicu oleh stimuli intern, yaitu kebutuhan dasar seseorang yang akan timbul suatu saat pada suatu tingkat tertentu dan menjadi suatu dorongan yang memotivasi orang itu untuk segera memuaskan dorongan tersebut. Selain itu kebutuhan dapat juga berasal dari stimuli ekstern, yaitu lingkungan yang mengkondisikan konsumen untuk mengkonsumsi (Kotler, 1997).
Pencarian informasi didefinisikan sebagai suatu kegiatan termotivasi dari pengetahuan yang tersimpan di dalam ingatan (pencarian internal) dan pengetahuan informasi dari pasar (pencarian eksternal). Seberapa besar pencarian yang dilakukan oleh seseorang tergantung pada kekuatan dorongannya, jumlah informasi yang dimiliki, kemudahan memperoleh informasi tambahan, nilai yang ia berikan pada informasi tambahan dan kepuasan yang ia peroleh dari pencarian tersebut. Bila informasi yang didapat dari pencarian internal tidak memadai untuk memberikan arah tindakan yang memuaskan, maka pencarian eksternal akan dilakukan (Kotler, 1997).
Menurut Kotler (1997), sumber-sumber informasi konsumen terdiri dari empat kelompok, yaitu:
1.Sumber pribadi : keluarga, teman, tetangga, kenalan
2.Sumber komersial : iklan, tenaga penjual, pedagang perantara
3.Sumber umum : media massa, organisasi penilai konsumen
4.Sumber pengalaman : penanganan, pemeriksaan penggunaan produk.
Sumber-sumber informasi yang berbeda dapat menuntun konsumen pada keputusan pembelian yang berbeda.
Faktor lain yang mempengaruhi tahap pencarian informasi adalah situasi, ciri-ciri produk, lingkungan eceran dan konsumen itu sendiri. Tekanan waktu merupakan salah satu sumber pengaruh situasi. Situasi pembelian yang mendesak menuntut sedikit waktu untuk melakukan pencarian ekstensif dan teliti. Pencarian ekstensif juga akan dilakukan jika konsumen merasakan adanya perbedaan ciri¬ciri produk diantara merek-merek yang ada. Lingkungan eceran akan mempengaruhi pencarian oleh konsumen karena jarak antara pesaing eceran dapat menentukan banyaknya toko yang menjadi tempat belanja konsumen selama pengambilan keputusan. Terakhir, karakteristik konsumen yang meliputi pengetahuan, keterlibatan, kepercayaan, sikap dan karakteristik demografi akan ikut mempengaruhi tahap pencarian informasi (Engel, Blackwell dan Miniard, 1995).
Evaluasi alternatif merupakan tahap dimana konsumen mengevaluasi berbagai alternatif dan membuat pertimbangan nilai yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan. Konsumen harus: (1) menentukan kriteria evaluasi yang akan digunakan, (2) memutuskan alternatif mana yang akan dipertimbangkan, (3) menilai kinerja dari alternatif yang dipertimbangkan dan (4) memilih dan menerapkan kaidah keputusan untuk membuat suatu pilihan akhir.
Pada pemilihan alternatif, konsumen menggunakan atribut tertentu yang disebut kriteria evaluasi. Kriteria evaluasi yang sering digunakan antara lain harga, kepercayaan konsumen akan merek, dan kriteria asal yang bersifat hedonik (prestise, status). Setelah menentukan kriteria evaluasi yang akan digunakan untuk menilai alternatif, maka konsumen memutuskan alternatif mana yang akan dipertimbangkan. Tahap ini terdiri dari menentukan alternatif-alternatif pilihan, menilai alternatif-alternatif pilihan dan terakhir menyeleksi kaidah keputusan (Engel, Blackwell dan Miniard, 1995).
Pembelian meliputi keputusan konsumen mengenai apa yang dibeli, apakah membeli atau tidak, kapan membeli, dimana membeli, dan bagaimana cara membayarnya. Termasuk di dalamnya adalah toko di mana dia akan membelinya serta pembayaran yang akan dilakukannya. Apakah dia membayar tunai atau cicilan (Sumarwan, 2003).
Evaluasi pascapembelian dapat berupa konsumen puas atau tidak puas terhadap konsumsi produk atau merek yang telah dilakukannya. Setelah mengkonsumsi suatu produk atau jasa, konsumen akan memiliki rasa puas atau tidak puas terhadap produk atau jasa yang dikonsumsinya. Kepuasan akan mendorong konsumen membeli dan mengkonsumsi ulang produk tersebut. Sebaliknya perasaan yang tidak puas akan menyebabkan konsumen kecewa dan menghentikan pembelian kembali dan konsumsi produk tersebut (Sumarwan, 2003).
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Proses keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor sehingga keputusan antara satu konsumen dengan konsumen yang lain berbeda. Faktor-faktor tersebut diantaranya pengaruh lingkungan, pengaruh perbedaan induvidu, pengaruh proses psikologis dan atribut produk.
Pengaruh lingkungan terdiri dari : (1) budaya, (2) kelas sosial, (3) pengaruh pribadi, (4) keluarga dan (5) pengaruh situasi. Budaya mengacu pada seperangkat nilai, gagasan, sikap dan simbol lain yang bermakna yang membantu manusia untuk berkomunikasi, membuat tafsiran dan melakukan evaluasi sebagai anggota masyarakat. Walaupun seorang konsumen bebas dalam menentukan pilihan namun karena mereka hidup di lingkungan dengan kebudayaan yang mempunyai batasan-batasan tertentu, maka kebebasan tersebut juga dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial budaya dan norma-norma masyarakat tersebut. Budaya mempengaruhi perilaku konsumen dalam tiga faktor yaitu: (1) budaya mempengaruhi struktur konsumsi, (2) budaya mempengaruhi bagaimana individu mengambil keputusan dan (3) budaya adalah variabel utama dalam penciptaan dan komunikasi makna dari sebuah produk (Engel, Blackwell dan miniard, 1994). Budaya juga didefinisikan sebagai hasil kreatifitas manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya yang sangat menentukan bentuk perilaku dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat (Mangkunegara, 2002). Budaya merupakan faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang yang paling fundamental (Kotler, 1997).
Kelas sosial adalah pembagian di dalam masyarakat yang terdiri dari individu-individu dengan berbagai nilai, minat dan perilaku pembelian yang sama. Ukuran-ukuran yang biasa dipakai untuk menggolongkan masyarakat ke dalam kelas sosial antara lain pendapatan, pendidikan, pekerjaan, kekayaan dan sebagainya. Kelas sosial menunjukan preferensi produk dan pemilihan merek yang berbeda-beda dalam berbagai kategori produk tertentu serta pakaian, perabotan rumah, kegiatan waktu luang dan kendaraan (Kotler, 1997).
Pengaruh pribadi sering memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan konsumen. Hal ini diekspresikan baik melalui kelompok acuan atau pun melalui komunikasi lisan. Kelompok acuan ini terbagi dua yaitu kelompok primer seperti keluarga, teman, tetangga dan teman kerja di mana orang tersebut secara terus menerus berinteraksi dengan mereka dan sifatnya cenderung informil. Kelompok sekunder yaitu kelompok yang bersifat lebih formil dan mempunyai interaksi yang tidak begitu rutin seperti kelompok keagamaan, profesi dan kelompok asosiasi perdagangan (Engel, Blackwell dan Miniard, 1994).
Keluarga merupakan sebuah kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih yang terikat oleh perkawinan, darah (keturunan: anak/cucu) dan adopsi Kelompok orang tersebut biasanya tinggal bersama dalam satu rumah. Namun, bisa saja bahwa semua anggota keluarga tersebut tidak tinggal di dalam satu rumah (Sumarwan, 2003). Keluarga sangat penting dalam perilaku konsumen karena merupakan pemberi pengaruh utama pada sikap dan perilaku individu. Dibandingkan dengan kelompok-kelompok lain dimana seseorang berhubungan langsung, keluarga memainkan peranan terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku manusia (Engel, Blackwell dan miniard, 1994).
Pengaruh situasi dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari faktor yang khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik konsumen dan karakteristik objek. Situasi dapat memberikan pengaruh yang kuat dalam perilaku konsumen. Perilaku berubah ketika situasi berubah. Pengaruh situasi dapat timbul dari lingkungan fisik (lokasi, tata ruang, suara, warna ), lingkungan sosial (orang lain), waktu atau moment, tugas (tujuan dan sasaran pembelian) serta keadaan anteseden (suasana hati dan kondisi sementara konsumen) (Engel, Blackwell dan Miniard, 1994).
Perbedaan Individu terdiri dari: (1) sumberdaya konsumen, (2) motivasi dan keterlibatan, (3) pengetahuan, (4) sikap dan (5) keperibadian, nilai dan gaya hidup. Sumberdaya konsumen yang digunakan dalam proses pembelian barang dan jasa terdiri dari tiga, yaitu: sumberdaya ekonomi, temporal dan kognitif. Hal ini berarti bahwa pemasar bersaing untuk mendapatkan uang, waktu dan perhatian konsumen. Persepsi konsumen mengenai sumberdaya yang tersedia mungkin mempengaruhi ketersediaan untuk menggunakan uang dan waktu untuk produk. Motivasi yaitu suatu dorongan dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya yang diarahkan pada tujuan memperoleh kepuasan. Sedangkan keterlibatan mengacu pada tingkat hubungan yang didasari dalam tindakan pembelian dan konsumsi (Engel, Blackwell dan Miniard, 1994).
Pengetahuan dapat didefinisikan sebagai kumpulan informasi yang disimpan dalam ingatan konsumen. Pengetahuan konsumen terbagi ke dalam tiga kategori yaitu: (1) pengetahuan produk mencakup atribut produk dan kepercayaan merek, (2) pengetahuan membeli (di mana dan kapan membeli) dan (3) pengetahuan pemakaian (dari iklan dan ingatan konsumen). Pengetahuan terbentuk melalui proses pembelajaran. Proses belajar pada suatu pembelian terjadi apabila konsumen ingin memperoleh suatu kepuasan, atau sebaliknya tidak terjadi apabila konsumen merasa dikecewakan oleh produk yang kurang baik (Engel, Blackwell dan Miniard, 1994).
Sikap merupakan suatu evaluasi menyeluruh yang memungkinkan orang berespon dengan cara menguntungkan atau tidak menguntungkan secara konsisten berkenaan dengan objek atau alternatif yang diberikan. Sikap seseorang mudah terpengaruh untuk memberikan tanggapan terhadap rangsangan lingkungan yang dapat memulai atau membimbing tingkah laku orang tersebut. Sikap ini dilakukan konsumen berdasarkan pandangannya terhadap produk dan proses belajar, baik dari pengalaman maupun dari yang lain (Kotler, 1995).
Kepribadian sebagai karakteristik psikologis yang berbeda dari seseorang yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan tetap terhadap lingkungannya. Kepribadian biasanya dijelaskan dengan ciri-ciri bawaan seperti percaya diri, otonomi, dominasi, perbedaan kondisi sosial, pembelaan diri dan kemampuan beradaptasi (Kotler, 1995) Nilai adalah kepercayaan atau segala sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang atau suatu masyarakat. Nilai bisa berarti sebuah kepercayaan tentang suatu hal, namun nilai bukan hanya kepercayaan. Nilai biasanya jumlahnya relatif lebih sedikit. Nilai mengarahkan seseorang untuk berperilaku yang sesuai dengan kepercayaannya. Nilai biasanya berlangsung lama dan sulit berubah. Nilai tidak terkait dengan suatu objek atau situasi. Nilai diterima oleh masyarakat. Gaya hidup adalah pola di mana orang hidup dan menghabiskan waktu serta uang. Bentuk operasional gaya hidup ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini seseorang (Engel, Blackwell dan Miniard, 1994).
Proses Psikologis memiliki tiga tahapan, yaitu (1) pengolahan informasi, (2) proses pembelajaran dan (3) perubahan sikap dan perilaku konsumen. Pengolahan informasi merupakan proses dimana rangsangan pemasaran diterima, ditafsirkan, disimpan dalam ingatan dan kemudian diambil lagi oleh konsumen untuk menilai alternatif-alternatif produk. Pengalaman konsumen didalam melakukan pembelian dapat menyebabkan perubahan dalam pengetahuan dan sikap. Proses ini disebut proses pembelajaran. Kedua proses di atas akan menyebabkan perubahan sikap konsumen (Engel, Blackwell dan Miniard, 1995). Program televisi sering menimbulkan pemicu psikologis pada penonton (misalnya, keinginan besar) yang mempengaruhi dampak pada iklan berikutnya.
Atribut produk dibedakan ke dalam atribut fisik dan atribut abstrak. Atribut fisik menggambarkan ciri-ciri fisik dari suatu produk. Atribut abstrak menggambarkan karakteristik subjektif dari suatu produk berdasarkan persepsi konsumen (Sumarwan, 2003). Atribut produk terdiri dari: (1) mutu, (2) merek, (3) kemasan, dan (4) label. Mutu merupakan keseluruhan ciri serta sifat dari suatu produk atau pelayanan yang berpengaruh pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat (Kotler, 1997). Mutu produk menunjukkan kemampuan sebuah produk untuk menjalankan fungsinya (Kotler dan Armstrong, 1995).
Merek adalah sebuah nama, istilah, tanda, simbol atau disain, atau kombinasi dari semuanya ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari seorang penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakan dari produk atau jasa pesaing. Konsumen memandang sebuah merek sebagai bagian yang penting dari produk dan pemberian merek dapat menambah nilai produk. Nama merek yang kuat memiliki kesetiaan konsumen yang kuat (Kotler dan Armstrong, 1995).
Kemasan merupakan wadah-kemas atau pembungkus yang dirancang atau diproduksi untuk suatu produk. Fungsi utama kemasan adalah sebagai tempat produk, akan tetapi pada akhir-akhir ini kemasan harus menjalankan banyak fungsi penjualan, mulai dari menarik perhatian hingga mendeskripsikan produk sampai pada membuat penjualan. Kemasan yang dirancang dengan baik, mempunyai kemampuan untuk secara langsung membuat para konsumen mengenal perusahaan atau merek (Kotler dan Armstrong, 1995).
Label adalah bagian dari kemasan dan merupakan informasi tercetak yang memuat keterangan mengenai produk yang bersangkutan, yang tampak pada atau bersatu dengan kemasan. Label mempunyai berbagai fungsi, penjual harus memutuskan label yang mana yang harus digunakan. Label mengidentifikasikan produk atau merek, mendeskripsikan beberapa hal tentang produk, dan mempromosikan produk melalui grafirnya yang menarik (Kotler dan Armstrong, 1995).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telah dibahas dan disajikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1) Televisi merupakan sumber informasi konsumen untuk mendapatkan shampo antiketombe dan sekaligus sebagai media yang sangat mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli shampo antiketombe.
2) Konsumen menjadikan manfaat fungsional dan harga sebagai pertimbangan awal dalam membeli shampo antiketombe, sementara kecocokan dengan rambut dan kulit kepala menjadi alasan konsumen memilih merek shampo antiketombe favorit.
3) Keputusan pembelian konsumen shampo antiketombe dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang terdiri dari faktor keluarga, pengetahuan tentang produk, gaya hidup, busa dan sistem distribusi.
4) Konsumen menilai kualitas shampo antiketombe yang dikonsumsi masih buruk atau kurang bisa menghilangkan ketombe. Manfaat khusus yang diharapkan dari shampo antiketombe dianggap biasa saja atau tidak terlalu dirasakan oleh konsumen. Shampo antiketombe yang dikonsumsi dinilai cukup wangi, kental, mereknya terkenal dan kemasan menarik.
3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat diberikan beberapa saran yang perlu kiranya mendapat perhatian dari pihak-pihak yang berkepentingan sebagai berikut :
1) Bagi produsen shampo antiketombe yang ingin memperkenalkan produk shampo antiketombe, sebaiknya menggunakan media informasi berupa iklan di televisi.
2) Bagi perusahaan shampo antiketombe, hendaknya lebih bijaksana dalam menetapkan harga sehingga konsumen tetap dapat membeli merek-merek favoritnya.
3) Mengingat bahwa masih banyak konsumen yang belum merasakan kualitas dari shampo antiketombe sebagai pencegah ketombe, maka disarankan supaya produsen meningkatkan manfaat kemampuan menghilangkan ketombe pada shampo antiketombe yang ditawarkan.
4) Melihat bahwa manfaat khusus dari shampo antiketombe masih pada rata-rata atau belum terlalu dirasakan oleh konsumen, maka pihak produsen shampo antiketombe sebaiknya terus melakukan riset-riset dan pengembangan produk untuk memberikan manfaat khusus yang diinginkan konsumen.
3.2 Daftar Pustaka
http//www.PRCM@Pikiran-Rakyat.com
Yahyu, Resna (2007), “Analisis Perilaku Konsumen Wanita dalam Pembelian Shampo Antiketombe di Kotamadya Bogor”.
Tugas ini ditujukan kepada Bpk. Seno Sudarmono Hadi
Minggu, 09 Oktober 2011
PENDAHULUAN
1.Latar Belakang Masalah
> Fenomena
Pada beberapa tahun terakhir memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan pasar modern sudah menjadi tuntutan dan gaya hidup modern yang berkembang dimasyarakat kita. Hal ini terjadi karena pasar modern mulai bersaing dengan harga produk yang lebih murah dari pada dipasar tradisional. Secara persentase dari tahun 2007 hingga 2008, pertumbuhan pasar modern lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pasar tradisional, yaitu pasar modern tumbuh 14 persen, sedangkan pasar tradisional hanya 3 persen. Namun, dalam hitungan jumlah, pasar tradisional jumlahnya masih lebih banyak, yaitu 58.855 unit, sementara pasar modern hanya 1.061 unit.
> Riset terdahulu
Hendrikus Arinanda, 2009, Analisis variabel pembentuk kepuasan konsumen pada ritel minimarket Alfamart dan Indomaret di wilayah Pesanggrahan Jakarta Selatan. Padyan Khatimi, 2011, Pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengetahui perilaku konsumen dalam memilih tempat belanja ditinjau dari faktor kualitas barang, kelengkapan barang, jarak dan waktu buka (studi kasus pada masyarakat di kota Depok).
> Motivasi penelitian
Berdasarkan feomena dan riset terdahulu (Hendrikus Arinanda, 2009) dan (Padyan Khatimi, 2011) maka penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pemilihan tempat belanja di kota Bekasi merupakan motivasi penelitian.
2.Perumusan Masalah
Berdasarkan motivasi penelitian, maka perumusan masalahnya (Analisis faktor –faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pemilihan tempat belanja di kota Bekasi).
> Masalah
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pemilihan tempat belanja di kota Bekasi ?
> Tujuan
Untuk melakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pemilihan tempat belanja di kota Bekasi.
3.Daftar Pustaka
http://library.gunadarma.ac.id/
Tugas ini ditujukan kepada Bpk. Prihantoro
> Fenomena
Pada beberapa tahun terakhir memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan pasar modern sudah menjadi tuntutan dan gaya hidup modern yang berkembang dimasyarakat kita. Hal ini terjadi karena pasar modern mulai bersaing dengan harga produk yang lebih murah dari pada dipasar tradisional. Secara persentase dari tahun 2007 hingga 2008, pertumbuhan pasar modern lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pasar tradisional, yaitu pasar modern tumbuh 14 persen, sedangkan pasar tradisional hanya 3 persen. Namun, dalam hitungan jumlah, pasar tradisional jumlahnya masih lebih banyak, yaitu 58.855 unit, sementara pasar modern hanya 1.061 unit.
> Riset terdahulu
Hendrikus Arinanda, 2009, Analisis variabel pembentuk kepuasan konsumen pada ritel minimarket Alfamart dan Indomaret di wilayah Pesanggrahan Jakarta Selatan. Padyan Khatimi, 2011, Pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengetahui perilaku konsumen dalam memilih tempat belanja ditinjau dari faktor kualitas barang, kelengkapan barang, jarak dan waktu buka (studi kasus pada masyarakat di kota Depok).
> Motivasi penelitian
Berdasarkan feomena dan riset terdahulu (Hendrikus Arinanda, 2009) dan (Padyan Khatimi, 2011) maka penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pemilihan tempat belanja di kota Bekasi merupakan motivasi penelitian.
2.Perumusan Masalah
Berdasarkan motivasi penelitian, maka perumusan masalahnya (Analisis faktor –faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pemilihan tempat belanja di kota Bekasi).
> Masalah
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pemilihan tempat belanja di kota Bekasi ?
> Tujuan
Untuk melakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pemilihan tempat belanja di kota Bekasi.
3.Daftar Pustaka
http://library.gunadarma.ac.id/
Tugas ini ditujukan kepada Bpk. Prihantoro
Senin, 03 Oktober 2011
ANALISIS JURNAL
ANALISIS JURNAL I
1) Judul, Nama Pengarang, Tahun
Analisis Pengaruh Harga, Motivasi Konsumen, dan Tempat terhadap Keputusan Pembelian (Studi pada pengunjung pujasera “Jaya Makmur” di Semarang); Novian Rezka M.; 2011
2) Tema
3) Latar Belakang Masalah
Fenomena
Sejak dahulu makanan menempati urutan teratas dalam pemenuhan kebutuhan manusia, sehingga masalah pangan dikategorikan ke dalam kebutuhan primer atau kebutuhan pokok. Dengan alasan itu, manusia tidak dapat melepaskan kebutuhannya untuk makan, karena hanya dengan makan manusia dapat melangsungkan hidup. Dalam menikmati hidangan atau makanan, setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk memenuhinya. Cara tersebut dapat dengan memilih rumah makan yang indah dengan pelayanan yang mewah. Sebagian konsumen ada yang beranggapan daripada makan makanan yang mewah dan mahal tetapi tidak lezat rasanya, lebih baik memilih rumah makan yang biasa tetapi cukup lezat sesuai dengan selera mereka.
Penelitian Sebelumnya
Sri Lestari Kurniawati, Laila Saleh, dan Umi Sundari (2000) melakukan penelitian tentang “Analisis terhadap beberapa variabel yang mempengaruhi frekuensi kunjungan konsumen bisnis waralaba siap saji McDonals di outlet Plaza Surabaya”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 5 variabel bebas yaitu produk, harga, promosi, tempat, dan gengsi secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh positif terhadap frekuensi kunjungan, dimana sig f adalah 0,0720 ( > sig 50% ).
Motivasi Penelitian
Jumlah pembeli di pujasera “Jaya Makmur” mengalami fluktuasi (naik turun).
4) Masalah
Pengaruh harga, motivasi konsumen, dan tempat terhadap keputusan pembelian di pujasera “Jaya Makmur” di Semarang.
5) Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh harga, motivasi konsumen, dan tempat terhadap keputuan pembelian di pujasera “Jaya Makmur” di Semarang.
6) Metodologi Penelitian
Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang didapat dari hasil wawancara dengan pemilik warung makan dan juga hasil pengisian kuesioner oleh konsumen pujasera tersebut.
Variabel
Identitas responden, pengaruh harga terhadap keputusan pembelian, pengaruh motivasi konsumen terhadap keputusan pembelian, pengaruh lokasi warung makan terhadap keputusan pembelian, dan keputusan pembelian.
Tahapan Penelitian
Survey kuesioner, wawancara, dan observasi.
Model Penelitian
7) Hipotesis
8) Hasil dan Analisis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel harga, motivasi konsumen, dan lokasi/ tempat secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian.
9) Rekomendasi dan Implikasi
ANALISIS JURNAL II
1. Judul, Nama Pengarang, Tahun
Analisis Pengaruh Kualitas Produk dan Kualitas Pelayanan terhadap Keputusan Pembelian pada Restoran Waroeng Taman Singosari di Semarang; Ridwan Zia Kusumah, 2011.
2. Tema
3. Latar Belakang Masalah
Fenomena
Semakin menjamurnya bisnis food service berimbas pada Kota Semarang. Hal ini menandakan semakin bergairahnya minat pelaku usaha di Semarang untuk berinvestasi di kategori ini. Berdasarkan data dari www.semarang.go.id usaha food service bersama-sama sektor usaha perdagangan dan hotel menyumbang kontribusi PDRB terbesar pada tahun 2009, yaitu sebesar 29,86%. Tak hanya itu, perkembangan jumlah usaha bisnis food service tersebut semakin meningkat tiap tahunnya.
Penelitian Sebelumnya
Bekti Setiawati (2006) melakukan penelitian tentang “Analisis Pengaruh Kualitas Produk dan Promosi terhadap Keputusan Pembelian Kerupuk Rambak Dwijoyo di desa Penanggulan kec. Pagandon kab. Kendal” . Dan hasilnya kualitas produk dan promosi berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian.
Motivasi Penelitian
Masih kurang optimal sistem baru yang telah dijalankan oleh pihak Manajemen Watasi saat ini.
4. Masalah
Penurunan tingkat penjualan dari bulan Januari 2010 – Januari 2011 karena adanya fluktuasi jumlah customer yang cenderung ke arah penurunan selama periode bulan Januari 2010 – Januari 2011.
5. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kualitas pelayanan, kualitas produk terhadap keputusan pembelian di Restoran Waroeng Taman Singosari Semarang.
6. Metodologi Penelitian
Data
Data primer (hasil tabulasi dari jawaban responden), data sekunder (data yang diperoleh secara tidak langsung).
Variabel
Variabel dependen (keputusan pembelian), variabel independen (kualitas produk dan kualitas pelayanan).
Tahapan Penelitian
Kuesioner, observasi, studi pustaka.
Model Penelitian
7. Hipotesis
8. Hasil dan Analisis
9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kualitas produk dan kualitas pelayanan secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian.
10. Rekomendasi dan Implikasi
ANALISIS JURNAL III
1. Judul, Nama Pengarang, Tahun
Analisis Pengaruh Kualitas Produk, Kualitas Layanan, Harga, dan Tempat terhadap Keputusan Pembelian (Studi pada Rumah Makan “Soto Angkring Mas Boed” di Semarang); Ika Putri Iswayanti; 2010.
2. Tema
3. Latar Belakang Masalah
Fenomena
Selain pelayanan, harga juga merupakan variabel penting dalam pemasaran. Dan faktor lokasi atau tempat juga merupakan faktor yang menentukan keberhasilan suatu bisnis.
Penelitian Sebelumnya
Setiadi Doni (2008) melakukan pen
elitian tentang “Analisis pengaruh kualitas jasa, harga, tempat yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam melakukan pembelian R.M. Noroyono di Purwodadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kualitas jasa memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian dengan koefisien sebesar 0,371. Diantara ketiga variabel yang mempengaruhi keputusan pembelian, variabel kualitas jasa memiliki pengaruh yang cukup moderat terhadap keputusan pembelian.
Motivasi Penelitian
Terjadi fluktuasi di setiap bulan.
4. Masalah
Pengaruh kualitas produk, kualitas layanan, harga, dan tempat terhadap keputusan pembelian di Rumah Makan Soto Angkring Mas Boed di Semarang.
5. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh kualitas produk, kualitas layanan, harga, dan tempat terhadap keputusan pembelian di Rumah Makan Soto Angkring Mas Boed di Semarang.
6. Metodologi Penelitian
Data
Data primer dan data sekunder.
Variabel
Dependen (keputusan pembelian), Independen (kualitas produk, kualitas layanan, harga, dan tempat).
Tahapan Penelitian
Model Penelitian
7. Hipotesis
8. Hasil dan Analisis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk, kualitas layanan, harga, dan tempat mempunyai hubungan yang positif dengan keputusan pembelian konsumen Rumah Makan “Soto Angkring Mas Boed”.
9. Rekomendasi dan Implikasi
Untuk penelitian yang akan datang disarankan untuk menambah variabel independen lainnya, yang tentunya dapat mempengaruhi variabel dependen keputusan pembelian agar lebih melengkapi penelitian ini, karena masih ada variabel-variabel independen lain di luar penelitian ini yang mungkin bisa mempengaruhi keputusan pembelian.
Nama : Nuraeni
Kelas : 3EA11
Mata Kuliah : Metode Riset
Tugas ini ditujukan kepada Bpk. Prihantoro.
1) Judul, Nama Pengarang, Tahun
Analisis Pengaruh Harga, Motivasi Konsumen, dan Tempat terhadap Keputusan Pembelian (Studi pada pengunjung pujasera “Jaya Makmur” di Semarang); Novian Rezka M.; 2011
2) Tema
3) Latar Belakang Masalah
Fenomena
Sejak dahulu makanan menempati urutan teratas dalam pemenuhan kebutuhan manusia, sehingga masalah pangan dikategorikan ke dalam kebutuhan primer atau kebutuhan pokok. Dengan alasan itu, manusia tidak dapat melepaskan kebutuhannya untuk makan, karena hanya dengan makan manusia dapat melangsungkan hidup. Dalam menikmati hidangan atau makanan, setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk memenuhinya. Cara tersebut dapat dengan memilih rumah makan yang indah dengan pelayanan yang mewah. Sebagian konsumen ada yang beranggapan daripada makan makanan yang mewah dan mahal tetapi tidak lezat rasanya, lebih baik memilih rumah makan yang biasa tetapi cukup lezat sesuai dengan selera mereka.
Penelitian Sebelumnya
Sri Lestari Kurniawati, Laila Saleh, dan Umi Sundari (2000) melakukan penelitian tentang “Analisis terhadap beberapa variabel yang mempengaruhi frekuensi kunjungan konsumen bisnis waralaba siap saji McDonals di outlet Plaza Surabaya”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 5 variabel bebas yaitu produk, harga, promosi, tempat, dan gengsi secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh positif terhadap frekuensi kunjungan, dimana sig f adalah 0,0720 ( > sig 50% ).
Motivasi Penelitian
Jumlah pembeli di pujasera “Jaya Makmur” mengalami fluktuasi (naik turun).
4) Masalah
Pengaruh harga, motivasi konsumen, dan tempat terhadap keputusan pembelian di pujasera “Jaya Makmur” di Semarang.
5) Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh harga, motivasi konsumen, dan tempat terhadap keputuan pembelian di pujasera “Jaya Makmur” di Semarang.
6) Metodologi Penelitian
Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang didapat dari hasil wawancara dengan pemilik warung makan dan juga hasil pengisian kuesioner oleh konsumen pujasera tersebut.
Variabel
Identitas responden, pengaruh harga terhadap keputusan pembelian, pengaruh motivasi konsumen terhadap keputusan pembelian, pengaruh lokasi warung makan terhadap keputusan pembelian, dan keputusan pembelian.
Tahapan Penelitian
Survey kuesioner, wawancara, dan observasi.
Model Penelitian
7) Hipotesis
8) Hasil dan Analisis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel harga, motivasi konsumen, dan lokasi/ tempat secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian.
9) Rekomendasi dan Implikasi
ANALISIS JURNAL II
1. Judul, Nama Pengarang, Tahun
Analisis Pengaruh Kualitas Produk dan Kualitas Pelayanan terhadap Keputusan Pembelian pada Restoran Waroeng Taman Singosari di Semarang; Ridwan Zia Kusumah, 2011.
2. Tema
3. Latar Belakang Masalah
Fenomena
Semakin menjamurnya bisnis food service berimbas pada Kota Semarang. Hal ini menandakan semakin bergairahnya minat pelaku usaha di Semarang untuk berinvestasi di kategori ini. Berdasarkan data dari www.semarang.go.id usaha food service bersama-sama sektor usaha perdagangan dan hotel menyumbang kontribusi PDRB terbesar pada tahun 2009, yaitu sebesar 29,86%. Tak hanya itu, perkembangan jumlah usaha bisnis food service tersebut semakin meningkat tiap tahunnya.
Penelitian Sebelumnya
Bekti Setiawati (2006) melakukan penelitian tentang “Analisis Pengaruh Kualitas Produk dan Promosi terhadap Keputusan Pembelian Kerupuk Rambak Dwijoyo di desa Penanggulan kec. Pagandon kab. Kendal” . Dan hasilnya kualitas produk dan promosi berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian.
Motivasi Penelitian
Masih kurang optimal sistem baru yang telah dijalankan oleh pihak Manajemen Watasi saat ini.
4. Masalah
Penurunan tingkat penjualan dari bulan Januari 2010 – Januari 2011 karena adanya fluktuasi jumlah customer yang cenderung ke arah penurunan selama periode bulan Januari 2010 – Januari 2011.
5. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kualitas pelayanan, kualitas produk terhadap keputusan pembelian di Restoran Waroeng Taman Singosari Semarang.
6. Metodologi Penelitian
Data
Data primer (hasil tabulasi dari jawaban responden), data sekunder (data yang diperoleh secara tidak langsung).
Variabel
Variabel dependen (keputusan pembelian), variabel independen (kualitas produk dan kualitas pelayanan).
Tahapan Penelitian
Kuesioner, observasi, studi pustaka.
Model Penelitian
7. Hipotesis
8. Hasil dan Analisis
9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kualitas produk dan kualitas pelayanan secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian.
10. Rekomendasi dan Implikasi
ANALISIS JURNAL III
1. Judul, Nama Pengarang, Tahun
Analisis Pengaruh Kualitas Produk, Kualitas Layanan, Harga, dan Tempat terhadap Keputusan Pembelian (Studi pada Rumah Makan “Soto Angkring Mas Boed” di Semarang); Ika Putri Iswayanti; 2010.
2. Tema
3. Latar Belakang Masalah
Fenomena
Selain pelayanan, harga juga merupakan variabel penting dalam pemasaran. Dan faktor lokasi atau tempat juga merupakan faktor yang menentukan keberhasilan suatu bisnis.
Penelitian Sebelumnya
Setiadi Doni (2008) melakukan pen
elitian tentang “Analisis pengaruh kualitas jasa, harga, tempat yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam melakukan pembelian R.M. Noroyono di Purwodadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kualitas jasa memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian dengan koefisien sebesar 0,371. Diantara ketiga variabel yang mempengaruhi keputusan pembelian, variabel kualitas jasa memiliki pengaruh yang cukup moderat terhadap keputusan pembelian.
Motivasi Penelitian
Terjadi fluktuasi di setiap bulan.
4. Masalah
Pengaruh kualitas produk, kualitas layanan, harga, dan tempat terhadap keputusan pembelian di Rumah Makan Soto Angkring Mas Boed di Semarang.
5. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh kualitas produk, kualitas layanan, harga, dan tempat terhadap keputusan pembelian di Rumah Makan Soto Angkring Mas Boed di Semarang.
6. Metodologi Penelitian
Data
Data primer dan data sekunder.
Variabel
Dependen (keputusan pembelian), Independen (kualitas produk, kualitas layanan, harga, dan tempat).
Tahapan Penelitian
Model Penelitian
7. Hipotesis
8. Hasil dan Analisis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk, kualitas layanan, harga, dan tempat mempunyai hubungan yang positif dengan keputusan pembelian konsumen Rumah Makan “Soto Angkring Mas Boed”.
9. Rekomendasi dan Implikasi
Untuk penelitian yang akan datang disarankan untuk menambah variabel independen lainnya, yang tentunya dapat mempengaruhi variabel dependen keputusan pembelian agar lebih melengkapi penelitian ini, karena masih ada variabel-variabel independen lain di luar penelitian ini yang mungkin bisa mempengaruhi keputusan pembelian.
Nama : Nuraeni
Kelas : 3EA11
Mata Kuliah : Metode Riset
Tugas ini ditujukan kepada Bpk. Prihantoro.
Sabtu, 24 September 2011
ANALISIS JURNAL
ANALISIS JURNAL I
1) Judul, Nama Pengarang, Tahun
Analisis Pengaruh Harga, Produk, Kebersihan, dan Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Pelanggan (Studi kasus pada Restoran MamamiaCabang Mrican Semarang ; Ryan Nur Harjanto ; 2010.
2) Tema
Kepuasan Pelanggan di berbagai Tempat Makan.
3) Latar Belakang Masalah
Fenomena
Semakin maraknya bisnis restoran ditunjukkan dengan perkembangan jumlah restoran dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari Departemen Pariwisata dan Perhubungan Semarang, menunjukkan jumlah restoran pada tahun 2006-2009 sebanyak 17.905, 18.889, 21.278, dan 23.667. (Sumber : Departemen Pariwisata dan Perhubungan Semarang, 2010) Restoran Mamamia Cabang Mrican Semarang merupakan salah satu restoran yang menghadapi ketatnya persaingan bisnis restoran pada saat ini. Munculnya pesaing-pesaing sangat menyulitkan posisi restoran tersebut.
Penelitian Sebelumnya
Rayi Endah K. (2008) melakukan penelitian mengenai pengaruh kualitas layanan, kualitas produk dan harga terhadap kepuasan pelanggan Restoran Warung Taman Singosari Semarang. Kepuasan pelanggan diposisikan sebagai variable dependen, sedangkan kualitas layanan, kualitas produk dan harga sebagai variable independen yang diduga mempengaruhi kepuasan pelanggan.
Motivasi Penelitian
Perbaikan kualitas restoran guna memenuhi kepuasan pelanggan.
4) Masalah
Jumlah pengunjung yang mengalami penurunan selama tahun 2006-2009 (Sumber : data primer diolah, 2010). Seberapa besar pengaruh faktor harga, faktor produk, faktor kebersihan, dan faktor kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan di Restoran Mamania Cabang Mrican Semarang.
5) Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh faktor harga, faktor produk, faktor kebersihan, dan faktor pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada Restoran Mamamia Cabang Mrican Semarang.
ANALISIS JURNAL II
1. Judul, Nama Pengarang, Tahun
Analisis Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Pelanggan (Studi Kasus pada Rumah Makan Pondok Laras di Kelapa Dua, Depok) ; Bernadine ; 2005)
2. Tema
Kepuasan Pelanggan di Berbagai Tempat Makan
3. Latar Belakang Masalah
Fenomena
Kondisi perekonomian nasional yang sedang mengalami recovery pada dewasa ini antara lain ditandai oleh berkembangnya usaha-usaha baru di berbagai bidang. Hal ini memicu semakin tajamnya persaingan antar industri maupun antar perusahaan dalam suatu industri, baik industri penghasil barang maupun jasa. Pada situasi persaingan ini, setiap perusahaan dituntut untuk mampu mengoptimalkan pengelolaan sumber daya ekonominya guna meningkatkan daya saing produknya di pasar.
Penelitian Sebelumnya
Simamora (2004), skala likert disebut juga summated rating scale yang banyak digunakan karena memberi peluang kepada responden untuk mengekpresikan perasaan mereka dalam bentuk persetujuan terhadap suatu pernyataan secara berjenjang.
Motivasi Penelitian
Lebih meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan, dengan harapan agar pelanggan memperoleh kepuasan.
4. Masalah
Bagaimana penerapan lima dimensi kualitas layanan pada pengelolaan layanan di Rumah Makan Pondok Laras dalam upaya memuaskan pelanggannya ? Bagaimana ketepatan prioritas layanan dalam memuaskan kebutuhan pelanggan dan seberapa signifikan pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan ?
5. Tujuan Penelitian
Terketahuinya tingkat kesesuaian antara kepentingan pelanggan dan kinerja layanan rumah makan ini dalam upaya memuaskan pelanggannya serta terukurnya tingkat signifikansi pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan.
ANALISIS JURNAL III
1. Judul, Nama Pengarang, Tahun
Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kualitas Pelanggan di Pizza Hut Gatot Subroto Denpasara ; Wayan Arya Paramarta ;
2. Tema
Kepuasan Pelanggan di Bernagai Tempat Makan
3. Latar Belakang Masalah
Fenomena
Dapat dijelaskan bahwa instrumen untuk mengukur persepsi pelanggan tentang kualitas dari suatu pelayanan mempergunakan lima dimensi dalam mengukur kualitas pelayanan, antara lain : tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy.
Penelitian Sebelumnya
Kusmayati (2005) menyatakan bahwa dimensi empathy dan tangibles mempengaruhi kepuasan pasien di Instalasi Rawat Darurat Rumah Sakit Sanglah, sedangkan dimensi reliability responsivenessdan assurance tidak signifikan mempengaruhi kepuasan pasien di Instalasi Rawat Darurat Rumah Sakit Sanglah.
Motivasi Penelitian
Meningkatkan pelayanan yang berkualitas agar dapat memberikan kepuasan kepada para pelanggannya.
4. Masalah
Bagaimanakah pengaruh Tangibles, Reliability, Responsiveness, Asurance, dan Empathy terhadap kepuasan pelanggan Pizza Hut di Jalan Gatot Subroto Denpasar ?
5. Tujuan Penelitian
Menjelaskan pengaruh Tangibles, Reliability, Responsiveness, Asurance, dan Empathy terhadap kepuasan pelanggan Pizza Hut di Jalan Gatot Subroto Denpasar ?
Nama : Nuraeni
Kelas : 3EA11
NPM : 16209182
Tugas : Metode Riset
1) Judul, Nama Pengarang, Tahun
Analisis Pengaruh Harga, Produk, Kebersihan, dan Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Pelanggan (Studi kasus pada Restoran MamamiaCabang Mrican Semarang ; Ryan Nur Harjanto ; 2010.
2) Tema
Kepuasan Pelanggan di berbagai Tempat Makan.
3) Latar Belakang Masalah
Fenomena
Semakin maraknya bisnis restoran ditunjukkan dengan perkembangan jumlah restoran dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari Departemen Pariwisata dan Perhubungan Semarang, menunjukkan jumlah restoran pada tahun 2006-2009 sebanyak 17.905, 18.889, 21.278, dan 23.667. (Sumber : Departemen Pariwisata dan Perhubungan Semarang, 2010) Restoran Mamamia Cabang Mrican Semarang merupakan salah satu restoran yang menghadapi ketatnya persaingan bisnis restoran pada saat ini. Munculnya pesaing-pesaing sangat menyulitkan posisi restoran tersebut.
Penelitian Sebelumnya
Rayi Endah K. (2008) melakukan penelitian mengenai pengaruh kualitas layanan, kualitas produk dan harga terhadap kepuasan pelanggan Restoran Warung Taman Singosari Semarang. Kepuasan pelanggan diposisikan sebagai variable dependen, sedangkan kualitas layanan, kualitas produk dan harga sebagai variable independen yang diduga mempengaruhi kepuasan pelanggan.
Motivasi Penelitian
Perbaikan kualitas restoran guna memenuhi kepuasan pelanggan.
4) Masalah
Jumlah pengunjung yang mengalami penurunan selama tahun 2006-2009 (Sumber : data primer diolah, 2010). Seberapa besar pengaruh faktor harga, faktor produk, faktor kebersihan, dan faktor kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan di Restoran Mamania Cabang Mrican Semarang.
5) Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh faktor harga, faktor produk, faktor kebersihan, dan faktor pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada Restoran Mamamia Cabang Mrican Semarang.
ANALISIS JURNAL II
1. Judul, Nama Pengarang, Tahun
Analisis Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Pelanggan (Studi Kasus pada Rumah Makan Pondok Laras di Kelapa Dua, Depok) ; Bernadine ; 2005)
2. Tema
Kepuasan Pelanggan di Berbagai Tempat Makan
3. Latar Belakang Masalah
Fenomena
Kondisi perekonomian nasional yang sedang mengalami recovery pada dewasa ini antara lain ditandai oleh berkembangnya usaha-usaha baru di berbagai bidang. Hal ini memicu semakin tajamnya persaingan antar industri maupun antar perusahaan dalam suatu industri, baik industri penghasil barang maupun jasa. Pada situasi persaingan ini, setiap perusahaan dituntut untuk mampu mengoptimalkan pengelolaan sumber daya ekonominya guna meningkatkan daya saing produknya di pasar.
Penelitian Sebelumnya
Simamora (2004), skala likert disebut juga summated rating scale yang banyak digunakan karena memberi peluang kepada responden untuk mengekpresikan perasaan mereka dalam bentuk persetujuan terhadap suatu pernyataan secara berjenjang.
Motivasi Penelitian
Lebih meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan, dengan harapan agar pelanggan memperoleh kepuasan.
4. Masalah
Bagaimana penerapan lima dimensi kualitas layanan pada pengelolaan layanan di Rumah Makan Pondok Laras dalam upaya memuaskan pelanggannya ? Bagaimana ketepatan prioritas layanan dalam memuaskan kebutuhan pelanggan dan seberapa signifikan pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan ?
5. Tujuan Penelitian
Terketahuinya tingkat kesesuaian antara kepentingan pelanggan dan kinerja layanan rumah makan ini dalam upaya memuaskan pelanggannya serta terukurnya tingkat signifikansi pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan.
ANALISIS JURNAL III
1. Judul, Nama Pengarang, Tahun
Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kualitas Pelanggan di Pizza Hut Gatot Subroto Denpasara ; Wayan Arya Paramarta ;
2. Tema
Kepuasan Pelanggan di Bernagai Tempat Makan
3. Latar Belakang Masalah
Fenomena
Dapat dijelaskan bahwa instrumen untuk mengukur persepsi pelanggan tentang kualitas dari suatu pelayanan mempergunakan lima dimensi dalam mengukur kualitas pelayanan, antara lain : tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy.
Penelitian Sebelumnya
Kusmayati (2005) menyatakan bahwa dimensi empathy dan tangibles mempengaruhi kepuasan pasien di Instalasi Rawat Darurat Rumah Sakit Sanglah, sedangkan dimensi reliability responsivenessdan assurance tidak signifikan mempengaruhi kepuasan pasien di Instalasi Rawat Darurat Rumah Sakit Sanglah.
Motivasi Penelitian
Meningkatkan pelayanan yang berkualitas agar dapat memberikan kepuasan kepada para pelanggannya.
4. Masalah
Bagaimanakah pengaruh Tangibles, Reliability, Responsiveness, Asurance, dan Empathy terhadap kepuasan pelanggan Pizza Hut di Jalan Gatot Subroto Denpasar ?
5. Tujuan Penelitian
Menjelaskan pengaruh Tangibles, Reliability, Responsiveness, Asurance, dan Empathy terhadap kepuasan pelanggan Pizza Hut di Jalan Gatot Subroto Denpasar ?
Nama : Nuraeni
Kelas : 3EA11
NPM : 16209182
Tugas : Metode Riset
Langganan:
Postingan (Atom)



